MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI DAN FISIOLOGI PUSAT
DAN JARAS NYERI
1.
Anatomi dan fisiologi sistem limbik
Sistem limbik terletak di
bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat kerah baju.limbik secara
harfiah diartikan sebagai perbatasan. Sistem limbik itu sendiri diartikan
keseluruhan lintasan neuronal yang mengatur tingkah laku emosional dan dorongan
motivasional. Bagian utama sistem limbik adalah hipothalamus dan
struktur-strukturnya yang berkaitan. Bagian otak ini sama dengan yang dimiliki
hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia.
Komponen limbik antara
lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan kortes limbik. Sistem limbik berfungsi mengendalikan
emosi, mengendalikan hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar,
seksualitas, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Sistem limbik
menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim
disebut sebagai otak emosi. Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai Alam
Bawah Sadar atau ketaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik
seperti menolong orang, dan perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan
sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat
bermuaranya cinta, respek dan kejujuran.
Sistem Limbik yang
terdiri dari Amigdala, Thalamus dan Hipothalamus ini berperanan sangat
penting dan berhubungan langsung dengan sistem otonom maupun bagian otak
penting lainnya. Karena hubungan langsung sistem Limbik
dengan sistem otonom, jadinya bila ada stimulus emosi negatif yang langsung
masuk dan diterima oleh sistem Limbik dapat menyebabkan berbagai gangguan
seperti : gangguan jantung , hipertensi maupun gangguan saluran cerna.
Tidak heran saat seseorang marah , maka jantung akan berdetak lebih cepat dan
lebih keras dan tekanan darah dapat meninggi .
Stimulus emosi dari luar ini dapat
langsung potong jalur masuk ke sistem Limbik tanpa dikontrol oleh bagian otak yang
mengatur fungsi intelektual yang mampu melihat stimulus tadi secara lebih
obyektif dan rasional. Hal ini menjelaskan kenapa seseorang yang sedang
mengalami emosi kadang perilakunya tidak rasional. Permasalahan lain
adalah pada beberapa keadaan seringkali emosi negatif seperti cemas dan depresi
timbul secara perlahan tanpa disadari dan individu tersebut baru menyadari saat
setelah timbul gejala fisik , seperti misalnya hipertensi.
Hipothalamus
Di sekeliling
hipotalamus terdapat terdapat subkortikal lain dari sistem limbik yang meliputi
septum, area paraolfaktoria, epithalamus, nukleianteriorthalamus, gangglia
basalis hipocampus dan amigdala. Di
sekeliling area subkortika limbik terdapat korteks limbik, yang terdiri atas
sebuah cincin korteks serebri pada setiap belahan otak yang dimulai dari area
orbitofrontalis pada permukaan ventral lobus frontalis, menyebar ke atas ke
dalam girus sub kalosal, kemudian melewati ujung atas korpus kalosum ke bagian
hemisferium serebri dalam girus singulata dan akhirnya berjalan ke belakang
korpus kalosum dan ke bawah menuju permukaan ventro medial lobus temporalis ke
girus parahipokampal dan unkus. Lalu pada permukaan medial dan ventral dari
setiap hemisferium serebri ada sebuah cincin terutama merupakan paleokorteks yang
mengelilingi sekelompok struktur dalam yang menagtur perilaku dan emosi.
Sebaliknya, cincin korteks limbik ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi
dua arah dan merupakan tali penghubung antara neokorteks dan struktur limbik
lain yang lebih rendah.
Jalur komunikasi yang
penting antara sistem limbik dan batang otak adalah berkas otak depan bagian
medial (medial forebrain bundle) yang menyebar ke regio septal dan orbito
frontal korteks serebri ke bawah melalui bagian tengah hipotalamus ke formasio
retikularis batang otak. Berkas ini membuat serabut-serabut dalam dua arah,
membentuk garis batang sistem komunikasi. Jalur komunikasi yang kedua adalah
melalui jaras pendek yang melewati formasio retikularis batang otak, thalamus,
hipothalamus, dan sebagian besar area lainnya yang berhubungan dengan area
basal otak.
Hipotalamus meskipun
berukuran sangat kecil hanya beberapa sentimeter kubik mempunyai jaras komunika
dua arah yang berhubungan dengan semua tingkat sistem limbik. Sebaliknya,
hipotalamus dan struktur yang berkaitan dengannya mengirimkan sinyal-sinyal
keluaran dalam tiga arah:
·
ke belakang dan ke
bawah menuju batang otak terutama di are retikular mesenfalon, pons, dan medula
dan dari area tersebut ke saraf perifer sistem saraf otonom.
·
ke atas menuju bagian besar area yang lebih
tinggi di diensefalon dan serebrum khususnya bagia anterior talamus dan bagian
limbik korteks serebri.
·
infundibulum hipotalamus untuk mengatur atau
mengatur secara sebagain dari fungsi sekretorik pada sebagian posterior dan anterior
kelenjar hipofisis.
Pengaturan fungsi vegetatif dan fungsi endokrin Hipotalamus.
Pada setiap
hipotalamus tampak adanya suatu area hipotalamik lateral yang besar. Area ini
berguna untuk pengaturan rasa haus, rasa lapar, dan sebagian besar hasrat emosional.
- Pengaturan
kardiovaskular menimbulkan efek neurogenik pada sistem kardiovaskular yang
telah dikenal meliputi kenaikan tekanan arteri, penurunan arteri,
peningkatan dan penurunan frekuensi denyut jantung.
- Pengaturan suhu tubuh. Bagian anterior
hipotalamus khususnya area preoptik berhubungan dengan suhu tubuh.
Peningkatan suhu darah yang mengalir melewati area ini meningkatkan
aktivitas neuron-neuron suhu. sebaliknya penurunan suhu darah akan
menurunkan aktivitasnya.
- Pengaturan cairan. Hipotalamus mengatur
cairan tubuh melalui dua cara. 1) dengan mencetuskan sensasi haus yang
menyebabkan seseorang atau hewan minum air. 2) mengatur ekskresi air ke
dalam urine. Di hipotalamus bagian lateral terdapat area pusat rasa haus.
- Pengaturan kontraktiitas uterus dan
pengeluaran air susu oleh payudara. Perangsangan nuklei paraventrikular
menyebabkan sel-sel neuronnya mensekresi hormon oksitosin yang
menyebabkan peningkatan kontraktilitas uterus serta kontraksi sel-sel
mioepitelial yang mengelilingi alveoli payudara yang selanjutnya alveoli
mengosongkan air susu melalui puting susu.
- Pengaturan gastrointestinal dan hasrat
makan. Yang berhubungan dengan rasa lapar terdapat di area
hipotalamus lateral. Sedangkan pusat rasa kenyang terletak di nuklei
ventromedial.
- Pengaturan hipotalamik sekresi hormon
endokrin oleh kelenjar hipofisis anterior.
Fungsi
perilaku dari hipotalamus dan fungsi limbik yang berkaitan :
ü
Perangsangan
hipotalamus lateral pada hewan, tidak hanya merangsang timbulnya rasa haus dan
nafsu makan, tetapi juga kadangkala menyebabkan timbu rasa marah yang sangat
hebat dan keinginan untuk berkelahi.
ü
Perangsangan nukleus ventromedial menimbulkan
rasa kenyang, menurunkan nafsu makan, dan hewan juga tenang.
ü
Perangsangan zone
tipis dari nuklei paraventrikular, yang terletak sangat berdekatan dengan
ventrikel ke tiga biasanya menimbulkan rasa takut dan reaksi terhukum.
ü
Dorongan seksual
terjadi bila ada rangsangan pada hipotalamus khususnya sebagian besar bagian
anterior dan posterior.
Beberapa prinsip sebagai bentuk kecerdasan emosi
yang diperankan sistem limbik antara lain:
Hipokampus
Hipokampus merupakan bagian korteks serebri yang memanjang melipat
ke dalam untuk membentuk lebih banyak bagian dalam ventrikel lateralis.
Hipokampus merupakan saluran tambahan yang dilewati oleh sinyal sensorik yang
masuk, yang dapat memulai reaksi perilaku dengan tujuan yang berbeda.
Seperti halnya halnya pada struktur-struktur limbik lain,
perangsangan pada berbagai area dalam hipokampus hampir selalu dapat
menyebabkan salah satu dari berbagai pola perilaku, misalnya rasa marah,
ketidak pedulian, atau dorongan seks yang berlebihan.
Hal-hal yang berasal dari ingatan jangka pendek dapat diubah untuk
disimpan menjadi ingatan jangka panjang oleh hipokampus. Hipokampus (terletak
diantara lobus temporal otak) dan bagian media lobus temporal (bagian yang
terletak paling dekat dengan garis tengah badan) juga berperan dalam proses
penggabungan ingatan (memory consolidation).
Untuk mengingat sesuatu, seseorang harus berhasil melaksanakan 3
hal, yaitu mendapatkan informasi, menahan/meyimpannya dan mengeluarkannya. Bila
kita lupa akan sesuatu, maka gangguan dapat terjadi pada bagian mana saja dari
ke 3 proses tersebut. Memory adalah proses aktif, karena ilmu pengetahuan
berubah terus, selalu diperiksa dan diformulasi ulang oleh pikiran otak kita.
Ingatan mempunyai
fase :
·
waktunya sangat singkat (extremely
shortterm)/ingatan segera (immediate memory) (item hanya dapat disimpan dalam
beberapa detik)
·
Ingatan jangka pendek (short term) (items
dapat ditahan dalam beberapa menit), ingatan jangka panjang (long term)
(penyimpanan berlangsungbeberapa jam sampai seumur hidup.
·
Ingatan
jangka panjang dihasilkan
oleh perubahan struktural pada system saraf, yang terjadi karena aktifasi
berulang terhadap lingkaran neuron (loop of neuron). Lingakaran tersebut dapat
dari korteks ke thalamus atau hipokampus, kembali lagi ke korteks.
Aktifasi berulang terhadap
neuron yang membentuk loop tersebut akan menyebabkan synaps diantara mereka
secara fungsional berhubungan. Sekali terjadi hubungan, maka neuron tersebut
akan merupakan suatu kumpulan sel, yang bila tereksitasi pada neuron tersebut
akan terjadi aktifasi seluruh kumpulan sel tersebut.
Dengan demikian dapat disimpan
dan dikembalikan lagi oleh berbagai sensasi, pikiran atau emosi yang
mengaktifasi beberapa neuron dari kumpulan sel tersebut. Menurut Hebb perubahan
struktural tersebut terjadi di sinaps.
Peran hipokampus dalam
pembelajaran
Fungsi teoritis
hipokampus pada pembelajan dapat menyebabkan timbulnya dorongan untuk mengubah
in gatan jangka pendek menjadi ingatan jangka panjang. Artinya, hipokampus
menjalarkan sinyal-sinyal yang tampaknya membuat pikiran berulang-ulang melatih
informasi baru sampai menjadi ingatan yang disimpan permanaen.
Amygdala
Amigdala merupakan kompleks
beragam nukleus kecil yang terletak tepat di bawah korteks serebri dari tiang
(pole) medial anterior setiap lobus temporalis. Amigdala mempunyai banyak
sekali hubungan dua jalur dengan hipothalamus seperti juga dengan daerah sistem
limbik lainnya. Amigdala menerima sistem neuronal dari semua bagian korteks
limbik seperti juga dari neokorteks lobus temporalis, parietalis, dan
ksipitalis terutama dari area asosiasi auditorik dan area asosiasi visual. Oleh
karena hubungan yang multiple ini, amigdala disebut ” jendela “, yang dipakai oleh sistem limbik untuk melihat
kedudukan seseorang di dunia. Sebaliknya, amigdala menjalarkan sinyal-
sinyal :
o kembali
ke area kortikal yang sama ini,
o ke hipokampus,
o ke
septum
o ke
thalamus, dan
o khususnya ke hipothalamus.
Efek perangsangan amigdala hampir sama dengan efek perangsangan
langsung pada hipothalamus, ditambah dengan efek lain. Efek yang diawali
dari amigdala kemudian dikirim melalui hipotalamus meliputi : 1) peningkatan
dan penurunan tekanan arteri, 2) meningkatkan atau menurunkan frekuensi denyut
jantung 3,) meningkatkan atau menurunkan motilitas dan sekresi
gastrointestinal, 4) defekasi atau mikturisi 5), dilatasi pupil atau kadangkala
kontriksi, 6) piloereksi, 7) sekresi berbagai hormon hipofisis anterior
terutama hormon gonadotropin dan adrenokortikortopik.
Disamping efek yang dijalarkan melalui hipotalamus ini,
persangsangan amigdala juga dapat menimbulkan beberapa macam gerakan involunter
yakni: 1) pergerakan tonik seperti mengangkat kepala atau membungkukkan badan,
2) pergerakan melingkar melingkar, 3) kadangkala pergerakan klonik, ritmis, dan
berbagai macam pergerakan yang berkaitan dengan penciuman dan makan sperti
menjilat, mengunyah, dan menelan. Selain itu, perangsangan pada nukleo amigdala
tertentu dapat menimbulkan pola marah, melarikan diri, rasa terhukum, nyeri
yang sangat, dan rasa takut seperti pola rasa marah yang dicetuskan oleh
hipotalamus.
Korteks limbik
Bagian dari sistem limbik
yang sedikit dimengerti adalah cincin korteks limbik, yang mengelilingi
struktur subkortikal limbik. Korteks ini berfungsi sebagai zona transisional
yang dilewati oleh sinyal-sinyal yang dijalarkan oleh sisa korteks otak ke
dalam sistem limbik dan juga ke arah yang berlawanan. Oleh karena itu. Korteks
limbik berfungsi sebagai area asosiasi serebral untuk
mengatur perilaku.
Korteks
limbik ini dimulai dari :
Otak area orbito frontalis pada permukaan ventral
lobus frontalis, menyebar ke atas ke dalam girus subkalosal, kemudian melewati
ujung atas korpus kolosum ke bagian medial hemisferum serebri dalam girus singulata, dan akhirnya
berjalan di belakang korpus kolosum dan ke bawah menuju permukaan ventromedial
lobus temporalis ke girus parahipokampal dan unkus. Lalu pada permukaan
medial dan ventral dari setiap hemisferum serebri ada sebuah cincin, terutama
merupakan paleokorteks, yang mengelilingi sekelompok struktur dalam yang sangat
berkaitan dengan prilaku dan emosi. Sebaliknya, cincin korteks ini juga
berfungsi sebagai alat komunikasi dua arah dan merupakan tali penghubung antara
neokorteks dan struktur limbik yang lebih rendah.
Perangsangan
pada berbagai regio korteks limbik akan meinggagalkan fungsi korteks limbik
ini. Namun, seperi halnya regio-regio lain dari sitem limbik, pola perilaku tersebut
dapat juga dicetuskan dengan merangasang daerah spesifik dalam korteks limbik.
Demikian juga ablasi beberapa area korteks limbik dapat menimbulkan perubahan
yang persisten pada perilaku hewan,misalnya hewan menjadi liar, mau menyelidiki
segala objek, mempunyai dorongan seksual yang besar tehadap hewan yang tidak
sesuai atau terhadap benda- benda mati.
Fungsi
Dopamin sebagai neururotransmiter kerja cepat disekresikan oleh neuron-neuron
yang berasal dari substansia nigra, neuron-neuron ini terutama berakhir pada
regio striata ganglia basalis. Pengaruh dopamin biasanya sebagai
inhibisi.(Guyton,1997: 714).
Dopamin
bersifat inhibisi pada beberapa area tapi juga eksitasi pada beberapa area.
Sistem norepinefrin yang bersifat eksitasi menyebar ke setiap area otak,
sementara serotonin dan dopamin terutama ke regio ganglia basalis dan sistem
serotonin ke struktur garis tengah (midline).(Guyton,1997: 932)
Dopamin
telah diduga kemungkinan penyebab skizofrenia secara tidak langsung karena
banyak pasien parkison yang mengalami gejala skizofrenia ketika diobati dengan
obat yang disebut L-DOPA. Obat ini melepaskan dopamin dalam otak, yang sangat
bermanfaat dalam mengobati parkinson, tetapi dalam waktu bersaman obat ini
menekan berbagai bagian lobus prefrontalis dan area yang berkaitan dengan
lainnya. Telah diduga bahwa pada skizofrenia terjadi kelebihan dopamin yang
disekresikan oleh sekelompok neuron yang mensekresikan dopamin yang badan
selnya terletak tegmentum ventral dari mesensefalon, disebelah medial dan anterior
dari sistem limbik, khususnya hipokampus, amigdala, nukleus kaudatus anterior
dan sebagian lobus frefrontalis ini semua pusat-pusat pengatur tingkah laku
yang sangat kuat. Suatu alasan yang sangat kuat. Suatu alasan yang lebih
meyakinkan untuk mempercayai skizofrenia mungkin disebabkan produksi dopamin
yang berlebihan ialah bahwa obat-obat yang bersifat efektif mengobati
skizofrenia seperti klorpromazin, haloperidol, dan tiotiksen semuanya
menurunkan sekresi dopamin pada ujung-ujung syaraf dopaminergik atau menurunkan
efek dopamin pada neuron yang selanjutnya
2.
Jaras nyeri
Sebuah sel saraf secara umum
terdiri dari badan sel (dimana terdapat inti sel), dendrit (berupa cabang
kecil), dan akson (berupa proyeksi panjang dari membran dan sitoplasma, dapat
dibungkus dengan myelin atau tidak). Sel saraf yang berperan dalam nosisepsi
adalah sel saraf sensorik. Sel saraf ini juga disebut sebagai sel ordo pertama
atau sel afferen primer. Sel ini merupakan sel unipolar, dimana akson dan
dendrit bersambung, dan badan sel terletak disalah satu sisinya.
Badan sel dari sel saraf
sensorik terletak di ganglia dorsalis, dekat dengan medulla spinalis, dan
memiliki satu akson dengan cabang yang pendek menuju medulla spinalis di kornu
dorsalis dan cabang yang panjang menuju ke perifer yang berakhir pada jaringan.
Ujung serabut perifernya berfungsi menerima rangsangan sensorik dan mengubahnya menjadi impuls saraf. Sedangkan ujung yang berada di kornu dorsalis membentuk hubungan dengan neuron di kornu dorsalis melalui sinaps.
Ujung serabut perifernya berfungsi menerima rangsangan sensorik dan mengubahnya menjadi impuls saraf. Sedangkan ujung yang berada di kornu dorsalis membentuk hubungan dengan neuron di kornu dorsalis melalui sinaps.
Namun beberapa serabut saraf
afferen primer ini, type C, memasuki spinal melalui jalur ventral, tempat
keluarnya serabut motorik.3,7 Hal ini menjelaskan rasa nyeri yang timbul pada
perangsangan di ventral dan menetapnya rasa nyeri walau telah terjadi transeksi
dari serabut saraf dorsalis (rhyzotomi).
Serabut saraf nyeri yang
berasal dari daerah kepala dibawa oleh saraf cranial Trigeminus (V), Fasial
(VII), Glossofaringeal (IX), dan Vagal (X). Badan sarafnya terletak pada,
secara berurutan, ganglia gasserian, ganglia genikulata, ganglia superior dan
petrosa, serta ganglion jugular (somatic) dan nodusum (visceral).
Ujung saraf aferen primer
yang berfungsi menerima rangsangan nyeri dikenal sebagai nosiseptor. Nosiseptor
ini dapat berupa interoseptor, yang menerima rangsangan di organ dalam, atau
eksteroseptor, yang menerima rangsangan dari luar tubuh. Beberapa nosiseptor
berbentuk reseptor khusus, sisanya berupa ujung saraf bebas. Badan pacini dan
muscle spindle adalah nosiseptor yang menerima rangsangan berupa distorsi
mekanik ambang rendah dari jaringan, secara berurutan letaknya ada di kulit dan
otot rangka. Ujung saraf bebas berfungsi sebagai nosiseptor terhadap distorsi
mekanik ambang tinggi pada jaringan juga
rangsangan yang disebabkan oleh suhu dan kimia (disebut juga alogen), seperti
asam, peningkatan kadar kalium, asam lemak, dan bermacam peptida (serotonin,
bradykinin dan prostaglandin).
Nosiseptor yang terletak di
viseral, selain serabut saraf tipe Ab yang berbentuk badan pacini pada
mesenterium, umumnya adalah ujung saraf bebas dari serabut Ad dan C. Rangsangan noksius di viseral agak sedikit berbeda
yaitu distensi dari organ berlumen, spasme otot polos, tarikan pada
mesenterium, iskemia, dan kimia endogen yang berkaitan dengan inflamasi.
Untuk persarafan viseral
memiliki kekhususan, yaitu memiliki dua jalur persarafan baik vagus dan nervus
spinalis atau nervus pelvic dan nervus spinalis. Nervus vagus dan pelvic
membawa persarafan parasimpatis untuk organ visera. Persarafan oleh vagus saat
ini terbukti berperan dalam kemonosisepsi dan aspek afektif dari nyeri. Nervus
spinalisnya sering ditemui berjalan bersama dengan nervus simpatik eferen,
sehingga melalui ganglia prevertebra (simpatik) sebelum ganglia paravertebra
(dorsalis). Serabut sarafnya dapat berprojeksi dengan saraf simpatik, sehingga
mempengaruhi fungsi, dapat pula berprojeksi ke atas atau ke bawah di trunkus
simpatikus, sebelum akhirnya menuju kornu dorsalis. Di kornu dorsalis sendiri
projeksinya sangat difus, dapat naik atau turun beberapa dermatom atau
menyebrang ke kontra lateral. Selain berakhir di lamina rexed I dan II,
serabutnya juga berakhir di lamina
Pada dasarnya semua akson,
baik yang bermielin atau tidak, diselubungi oleh lapisan myelin.6,7 Beberapa
serabut yang tidak bermielin diselubungi oleh satu lapis myelin dari satu sel
schwan, sedangkan akson yang bermielin diselubungi oleh beberapa lapisan myelin
dari satu sel schwan. Akson yang dilapisi sel mielin ini memiliki jeda atau
bagian yang tidak bermielin, dimana lapisan myelin selanjutnya berasal dari sel
schwan yang berbeda. Jeda ini disebut nodus ranvier.
Pada saat akan memasuki
kornu dorsalis, serabut saraf secara teratur memiliki tendensi untuk berkumpul
dengan golongannya. Serabut yang besar akan masuk dengan posisi di medial sedangkan
yang kecil akan ada di lateral.3,6 Beberapa dapat naik atau turun 1-3 segmen
medulaspinalis membentuk traktus dorsolateralis (lissauer) sebelum
Tabel 1. Perbandingan antara serabut nosiseptor A tipe I dan tipe II
Tabel 1. Perbandingan antara serabut nosiseptor A tipe I dan tipe II
Karakteristik Tipe I Tipe II:
v Ambang rangsang panas terhadap stimuli
singkat Tinggi Rendah
v Ambang rangsang panas terhadap stimuli
lama Rendah Rendah
v Respon terhadap panas yang intens
Meningkat perlahan Adaptasi
v Latensi respon terhadap panas yang
intens Panjang Pendek
v Puncak latensi terhadap panas yang
intens Lambat Cepat
v Ambang rangsang terhadap stimuli mekanik
Sensitif Kurang sensitif
v Conduction velosity Serabut Aδ dan Aβ
Serabut Aδ
v Sensitisasi terhadap cedera akibat panas
Ya Tidak
v Lokasi Kulit berambut dan glabrous skin
Kulit berambut
Akhirnya berhubungan dengan
neuron di kornu dorsalis (neuron Ordo 2) melalui sinaps. Beberapa berhubungan
dengan neuron ordo 2 melalui interneuron. Neuron di kornu dorsalis
secara mikroskopik membentuk lapisan-lapisan yang disebut lamina Rexed. Ada
empat lamina yang berperan utama dalam nosiseptif yaitu lamina I, II, IV dan
V.2,6 Lamina I atau disebut lapisan marginal, mengandung neuron yang besar. Neuron
ini spesifik menerima input nosisepsi, dan memiliki informasi lapangan somatic
yang diskret. Neuron ini sebagian akan menyeberang dan memproyeksikan ke
thalamus melaluai jalur yang disebut traktus spinothalamikus, sebagian yang
lain berproyeksi intra dan intersegmen sebagai interneuron yang memperantai
refleks. Lamina II disebut substansia gelatinosa, menerima
input dari serabut Aδ dan C, yaitu stimuli suhu, kimia dan mekanik. Sedangkan
lamina IV dan V diebut nucleus propius, neuronnya terbagi dua golongan besar
yaitu yang merespon input dari serabut Aβ (stimuli suhu dan mekanik ambang
rendah), atau yang merespon input dari stimulus yang bervariasi yang dibawa
serabut saraf tipe Ab, Ad, atau C, dari yang tidak berbahaya
hingga yang paling berbahaya, sehingga dinamakan neuron wide-dynamic-range
(WDR).
Neuron di kornu dorsalis
berperan menghantarkan impuls dari kornu dorsalis ke bagisn-bagian yang lebih
tinggi di SSP. Impuls yang telah melalui proses modulasi di kornu dorsalis akan
dihantarkan melalui bundle yang disebut traktus ascenden. Dari kornu dorsalis,
beberapa serabut saraf yang memprojeksikan sinyal ke thalamus melalui traktus
spinotalamikus. Jaras ini dianggap sebagai jaras utama penghantaran nyeri. Ada
pula yang memprojeksikan ke formasio reticularis, mesensefalon, hipothalamus,
thelensefalon, dan nucleus servikalis lateral, melalui traktus spinoretikular,
spinomesensefalik dan spinohipothalamik, spinothelensefalik serta
spinoservikalis. Jaras-jaras ini dianggap sebagai jaras alternatif, namun tidak
kalah penting. Ada pula beberapa serabut di kolumna dorsalis, yang terutama
menghantarkan input sensorik non-nosiseptif, yang responsive terhadap nyeri.
Selain berprojeksi dengan
neuron yang akan menghantarkan impuls ke susunan saraf pusat yang diatas,
serabut saraf aferen primer juga berprojeksi dengan dengan serabut motorik baik
somatik ataupun simpatis, baik secara langsung ataupun melalui interneuron.
Hubungan ini memperantarai terjadinya reflek respon segmental, yaitu aktifitas
otot, vasokonstriksi, menurunnya tonus atau spasme otot gastrointestinal dan
traktus urinarius dan pelepasan katekolamin.
Projeksi dan mekanisme yang
terjadi di atas tingkat medulla spinalis sangat kompleks. (gambar 2) Projeksi
ke formasio retikularis akan diteruskan lagi menuju thalamus. Projeksi ke
thalamus diterima dibeberapa bagian, kompleks ventrobasal menerima input yang secara
somatotipikal terorganisasi baik. Nukleus thalamus medial berhubungan dengan
input dari viseral, melayani integrasi dari somatosensori dan Jaras asenden2
MEMAHAMI DAN MENJELASKAN
NYERI KEPALA
1. Definisi
Sakit kepala yang
secara medis dikenal sebagai cephalgi adalah suatu kondisi terdapatnya rasa sakit di
dalam kepala: kadang sakit di belakang leher atau punggung bagian atas, disebut
juga sebagai sakit kepala. Jenis penyakit ini termasuk dalam keluhan-keluhan
penyakit yang sering diutarakan. Sedangkan, menurut Arif Mansjoer (2000) nyeri
kepala atau cephalgia adalah rasa nyeri atau rasa tidak enak di kepala,
setempat atau menyeluruh dan dapat menjalar ke wajah, gigi, rahang bawah dan
leher.
Fisiologi nyeri
Nyeri (sakit) merupakan
mekanisme protektif yang dapat terjadi setiap saat bila ada jaringan manapun
yang mengalami kerusakan, dan melalui nyeri inilah, seorang individu akan
bereaksi dengan cara menjauhi stimulus nyeri tersebut.
Rasa nyeri dimulai dengan
adanya perangsangan pada reseptor nyeri oleh stimulus nyeri. Stimulus nyeri
dapat dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia. Mekanik, spasme otot
merupakan penyebab nyeri yang umum karena dapat mengakibatkan terhentinya
aliran darah ke jaringan ( iskemia jaringan), meningkatkan metabolisme di jaringan
dan juga perangsangan langsung ke reseptor nyeri sensitif mekanik.
Termal, rasa nyeri yang
ditimbulkan oleh suhu yang tinggi tidak berkorelasi dengan jumlah kerusakan
yang telah terjadi melainkan berkorelasi dengan kecepatan kerusakan jaringan
yang timbul. Hal ini juga berlaku untuk penyebab nyeri lainnya yang bukan
termal seperti infeksi, iskemia jaringan, memar jaringan, dll. Pada suhu 45 C,
jaringan ± jaringan dalam tubuh akan mengalami kerusakan yang didapati pada
sebagian besar populasi.
Kimia, ada beberapa zat kimia
yang dapat merangsang nyeri seperti bradikinin, serotonin, histamin, ion
kalium, asam, asetilkolin, dan enzim proteolitik. Dua zat lainnya yang
diidentifikasi adalah prostaglandin dan substansi P yang bekerja dengan
meningkatkan sensitivitas dari free nerve endings. Prostaglandin dan substansi
P tidaklangsung merangsang nyeri tersebut. Dari berbagai zat yang telah
dikemukakan, bradikinin telah dikenal sebagai penyebab utama yang menimbulkan
nyeri yang hebat dibandingkan dengan zat lain. Kadar ion kalium yang meningkat
dan enzim proteolitik lokal yang meningkat sebanding dengan intensitas nyeri
yang sirasakan karena kedua zat ini dapat mengakibatkan membran plasma lebih
permeabel terhadap ion. Iskemia jaringan juga termasuk stimulus kimia karena
pada keadaan iskemia terdapat penumpukan asam laktat, bradikinin, dan enzim
proteolitik.
Semua jenis reseptor nyeri
pada manusia merupakan free nerve endings. Reseptor nyeri banyak tersebar pada
lapisan superfisial kulit dan juga pada jaringan internal tertentu, seperti
periosteum, dinding arteri, permukaan sendi, falx, dan tentorium. Kebanyakan
jaringan internal lainnya hanya diinervasi oleh free nerve endings yang
letaknya berjauhan sehingga nyeri pada organ internal umumnya timbul akibat penjumlahan
perangsangan berbagai nerve endings dan dirasakan sebagaisl ow ± chronic-
aching type pain.
Nyeri dapat dibagi atas dua
yaitu fast pain dan slow pain. Fast pain, nyeri akut, merupakan nyeri yang
dirasakan dalam waktu 0,1 s setelah stimulus diberikan. Nyeri ini disebabkan
oleh adanya stimulus mekanik dan termal. Signal nyeri ini ditransmisikan dari
saraf perifer menuju korda spinalis melalui serat A dengan kecepatan
mencapai 6 ± 30 m/s. Neurotransmitter yang mungkin digunakan adalah glutamat
yang juga merupakan neurotransmitter eksitatorik yang banyak digunakan pada
CNS. Glutamat umumnya hanya memiliki durasi kerja selama beberapa milliseconds.
Slow pain, nyeri kronik,
merupakan nyeri yang dirasakan dalam wkatu lebih dari 1 detik setelah stimulus diberikan.
Nyeri ini dapat disebabkan oleh adanya stimulus mekanik, kimia dan termal
tetapi stimulus yang paling sering adalah stimulus kimia. Signal nyeri ini
ditransmisikan dari saraf perifer menuju korda spinalis melalui serat C dengan
kecepatan mencapai 0,5 ± 2 m/s. Neurotramitter yang mungkin digunakan adalah
substansi P.
Meskipun semua reseptor nyeri
adalah free nerve endings, jalur yang ditempuh dapat dibagi menjadi
duapat hway yaitufast-sharp pain pathway danslow-chronic pain
pathway. Setelah mencapai korda spinalis melalui dorsal spinalis, serat nyeri
ini akan berakhir pada relay neuron pada kornu dorsalis dan selanjutnya akan
dibagi menjadi dua traktus yang selanjutnya akan menuju ke otak. Traktus itu
adalah neospinotalamikus untukfast pain dan paleospinotalamikus untuk slow pain.
Traktus neospinotalamikus
untukfast pain, pada traktus ini, serat A yang mentransmisikan nyeri
akibat stimulus mekanik maupun termal akan berakhir pada lamina I (lamina
marginalis) dari kornu dorsalis dan mengeksitasis econd - or der neurons dari
traktus spinotalamikus. Neuron ini memiliki serabut saraf panjang yang
menyilang menuju otak melalui kolumn anterolateral. Serat dari
neospinotalamikus akan berakhir pada: (1) area retikular dari batang otak
(sebagian kecil), (2) nukleus talamus bagian posterior (sebagian kecil), (3)
kompleks ventrobasal (sebagian besar). Traktus lemniskus medial bagian kolumn
dorsalis untuk sensasi taktil juga berakhir pada daerah ventrobasal. Adanya
sensori taktil dan nyeri yang diterima akan memungkinkan otak untuk menyadari
lokasi tepat dimana rangsangan tersebut diberikan.
Traktus paleospinotalamikus
untuk slow pain, traktus ini selain mentransmisikan sinyal dai serat C, traktus
ini juga mentransmisikan sedikit sinyal dari serat A. Pada traktus ini , saraf
perifer akan hampir seluruhnya nerakhir pada lamina II dan III yang apabila
keduanya digabungkan, sering disebut dengan substansia gelatinosa. Kebanyakan
sinyal kemudian akan melalui sebuah atau beberapa neuron pendek yang
menghubungkannya dengan area lamina V lalu kemudian kebanyakan serabut saraf
ini akan bergabung dengan serabut saraf darif ast- sharp pain pathway. Setelah
itu, neuron terakhir yang panjang akan menghubungkan sinyal ini ke otak pada
jaras anterolateral.
Ujung dari traktus paleospinotalamikus kebanyakan
berakhir pada batang otak dan hanya sepersepuluh ataupun seperempat sinyal yang
akan langsung diteruskan ke talamus. Kebanyakan sinyal akan berakhir pada salah
satu tiga area yaitu : (1) nukleus retikularis dari medulla, pons, dan
mesensefalon, (2) area tektum dari mesensefalon, (3) regio abu ± abu dari
peraquaductus yang mengelilingi aquaductus Silvii. Ketiga bagian ini penting
untuk rasa tidak nyaman dari tipe nyeri. Dari area batang otak ini, multipel
serat pendek neuron akan meneruskan sinyal ke arah atas melalui intralaminar
dan nukleus ventrolateral dari talamus dan ke area tertentu dari hipotalamus
dan bagian basal otak.
2.
Klasifikasi nyeri kepala
a. Nyeri kepala
primer :
o
Migren
o
Nyeri kepala tipe tegang
o
Nyeri kepala klaster dan sefalgia
trigeminal-otonomik yang lain
o
Nyeri kepala primer lainnya
b. Nyeri kepala
sekunder :
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma
kepala dan leher
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan
vaskular kranial atau servikal
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan nonvaskular
intrakranial
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan
substansi
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan
homeostasis
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan
kranium, leher, mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut, atau struktur
fasial, atau fasial lainnya
o
Nyeri kepala yang berkaitan dengan
psikiatri
o
Neuralgia kranial atau sentral yang
menyebabkan nyeri wajah
o
Nyeri kepala lainnya, neuralgia kranial,
nyeri wajah primer atau sentral.
3.
Etiologi
Sakit kepala bisa disebabkan oleh kelainan: (1) vaskular, (2)
jaringan saraf,(3) gigi ± geligi, (4) orbita, (5) hidung dan (6) sinus
paranasal, (7) jaringan lunak dikepala, kulit, jaringan subkutan, otot, dan
periosteum kepala. Selain kelainan yangtelah disebutkan diatas, sakit kepala
dapat disebabkan oleh stress dan perubahanlokasi (cuaca, tekanan, dll.)
Faktor resiko terjadinya
sakit kepala adalah gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur, pemberian histamin atau
nitrogliserin sublingual dan faktor genetik.
Faktor
–Faktor Pencetus Nyeri Kepala:
ü Kelelahan. Olahraga yang terlalu
berat, termasuk juga hubungan seks, juga bisa menyebabkan sakit kepala.
Kegiatan fisik yang berlebihan bisa membuat pembuluh darah di kepala dan leher
bengkak dan tertekan. Sakit kepala yang disebabkan olahraga atau seks lebih
mudah menyerang orang yang sering terkena migren.
ü Bau yang merangsang. Pernahkah Anda merasa
pusing gara-gara mencium aroma parfum? Aroma bau yang kuat, bahkan yang wangi,
umumnya menyebabkan kepala pusing. Belum diketahui mengapa hal ini terjadi,
namun para ahli menduga bau yang memiliki aroma kuat merangsang sistem saraf.
Selain parfum, bau cat, bunga, atau debu, sering menyebabkan kepala berdenyut.
ü Stress. sakit kepala yang
disebabkan oleh ketegangan emosional ini disebut sakit kepala fungsional atau
tension headache.Penderita sakit kepala ini sering merasakan otot-otot di
bagian leher belakang kaku dan menegang. Pijatan ringan di bagian tersebut bisa
mengurangi sakit kepala, namun setelah beberapa saat keluhan akan kembali
muncul.
ü Beberapa jenis makanan yang
mengandung tiramin / MSG. Tyramine juga bisa kita temukan dalam red wine dan
minuman keras. Alkohol yang terkadung dalam minuman itu akan meningkatkan
aliran darah ke otak, sehingga kepala pun terasa pusing. Hindari mengonsumsi
makanan manis, seperti cokelat. Gula dari makanan manis akan membuat gula darah
melambung untuk kemudian turun lebih rendah lagi.
ü Menstruasi. Disebut juga migraine haid
antara 2 hari sebelum dan hari terakhir haid.kelainan respons neurotransmitter
dalam sistem serotonin dan opioid normal terhadap perubahan siklik normal
hormon-hormon ovarium. Perubahan kadar prostaglandin yang menyebabkan
sensitisasi reseptor nyeri dan peradangan neurogenik.
ü Trauma, Gangguan tidur
ü Menopause, Pil kontrasepsi
ü Perubahan barometer
Hubungan nyeri kepala
dengan aktivitas : Nyeri kepala saat beraktivtas disebabkan oleh
malformasi vaskuler pada otak atau lesi pada foramen magnum, misalnya pada
malformasi Arnold - Chiari. Nyeri kepala Postural, bisa merupakan tanda tekanan
cairan serebrospinal (LCS) yang abnormal (tinggi/rendah). Nyeri kepala ini juga
disebabkan karena kontraksi otot-oto leher yang berlebihan sehingga menyebabkan
vasokontriksi pemubuluh darah dan kurangnya oksigen yang menuju otak.
4. Patofisiologi
Pada nyeri kepala,
sensitisasi terdapat di nosiseptor meningeal dan neuron trigeminal sentral.
Fenomena pengurangan nilai ambang dari kulit dan kutaneus allodynia didapat
pada penderita yang mendapat serangan migren dan nyeri kepala kronik lain yang
disangkakan sebagai refleksi pemberatan respons dari neuron trigeminalsentral.
lnervasi sensoris pembuluh
darah intrakranial sebagian besar berasal dari ganglion trigeminal dari didalam
serabut sensoris tersebut mengandung neuropeptid dimana jumlah dan peranannya
adalah yang paling besar adalah CGRP(Calcitonin Gene Related Peptide), kemudian
diikuti oleh SP(substance P), NKA(Neurokinin A), pituitary adenylate cyclase
activating peptide (PACAP), nitricoxide (NO), molekul prostaglandin E2 (PGEJ2),
bradikinin, serotonin(5-HT) dan adenosin triphosphat (ATP), mengaktivasi atau
mensensitisasi nosiseptor 2. Khusus untuk nyeri kepala klaster clan chronic
paroxysmal headache ada lagi pelepasan VIP(vasoactive intestine peptide) yang
berperan dalam timbulnya gejala nasal congestion dan rhinorrhea
Marker pain sensing nerves
lain yang berperan dalam proses nyeri adalah opioid dynorphin, sensory
neuron-specific sodium channel(Nav 1.8), purinergic reseptors(P2X3), isolectin
B4 (IB4), neuropeptide Y, galanin dan artemin reseptor ( GFR-∝3 = GDNF Glial Cell Derived Neourotrophic Factor
family receptor-∝3). Sistem ascending dan
descending pain pathway yang berperan dalam transmisi dan modulasi nyeri
terletak dibatang otak. Batang otak memainkan peranan yang paling penting
sebagai dalam pembawa impuls nosiseptif dan juga sebagai modulator impuls
tersebut. Modulasi transmisi sensoris sebagian besar berpusat di batang otak
(misalnya periaquaductal grey matter, locus coeruleus, nukleus raphe magnus dan
reticular formation), ia mengatur integrasi nyeri, emosi dan respons otonomik
yang melibatkan konvergensi kerja dari korteks somatosensorik, hipotalamus,
anterior cyngulate cortex, dan struktur sistem limbik lainnya. Dengan demikian
batang otak disebut juga sebagai generator dan modulator sefalgia.
Stimuli elektrode, atau
deposisi zat besi Fe yang berlebihan pada periaquaduct grey (PAG) matter pada
midbrain dapat mencetuskan timbulnya nyeri kepala seperti migren (migraine like
headache). Pada penelitian MRI(Magnetic Resonance Imaging) terhadap
keterlibatan batang otak pada penderita migren, CDH(Chronic Daily Headache) dan
sampel kontrol yang non sefalgi, didapat bukti adanya peninggian deposisi Fe di
PAG pada penderita migren dan CDH dibandingkan dengan kontrol.
Patofisiologi CDH belumlah
diketahui dengan jelas. Pada CDH justru yang paling berperan adalah proses
sensitisasi sentral. Keterlibatan aktivasi reseptor NMDA (N-metil-D-Aspartat),
produksi NO dan supersensitivitas akan menaikkan produksi neuropeptide sensoris
yang bertahan lama. Kenaikan nitrit Likuor serebrospinal ternyata bersamaan
dengan kenaikan kadar cGMP(cytoplasmic Guanosine Mono phosphat) di likuor.
Kadar CGRP, SP maupun NKA juga tampak meninggi pada likuor pasien CDH.
Reseptor opioid di down
regulated oleh penggunaan konsumsi opioid analgetik yang cenderung menaik
setiap harinya. Pada saat serangan akut migren, terjadi disregulasi dari sistem
opoid endogen, akan tetapi dengan adanya analgesic overused maka terjadi
desensitisasi yang berperan dalam perubahan dari migren menjadi CDH.15
Adanya inflamasi steril
pada nyeri kepala ditandai dengan pelepasan kaskade zat substansi dari perbagai
sel. Makrofag melepaskan sitokin IL1 (Interleukin 1), IL6 dan TNF∝ (Tumor Necrotizing Factor ∝) dan NGF (Nerve Growth Factor). Mast cell
melepas/mengasingkan metabolit histamin, serotonin, prostaglandin dan
arachidonic acid dengan kemampuan melakukan sensitisasi terminal sel saraf.
Pada saat proses inflamasi, terjadi proses upregulasi beberapa reseptor (VR1,
sensory specific sodium/SNS, dan SNS-2)dan peptides(CGRP, SP).
5.
Manifestasi klinis
a.
Ketegangan otot. Sakit kepala sering terjadi. Nyeri
hilang timbul, tidak terlalu berat dan dirasakan dikepala bagian depan dan
belakang atau penderita merasakan kekakuan menyeluruh.
b.
Migren. Nyeri dimulai didalam disekitar mata, pelipis,
menyebar kesatu atau kedua sisi kepala biasanya hanya satu sisi kepala,
berdenyut dan disertai dengan hilangnya nafsu makan, mual dan muntah
c.
Sakit kepala cluster. Serangan singkat (1 jam). Nyeri
sangat hebat dan dirasakan pada satu sisi kepala. Serangan terjadi secara
periodik dalam sebuah kelompok (diselingi periode bebas sakit kepala) dan
terutama menyerang pria disertai pembengkakan mata, hidung meler dan mata
berair pada sisi yang sama dengan nyeri.
d.
Hipertensi. Jarang menyebabkan sakit kepala, kecuali
pada tekanan darah tinggi yang berat karena tumor dikelenjar adrenal. Nyerinya
berdenyut dan dirasakn dikepala bagian belakang atau dipuncak kepala.
e.
Kelainan mata (iritasi, glaukoma). Nyeri dirasakan
dikepala tepat atau didalam dan diseluruh mata, bersifat sedang sampai berat
dan seringkali memburuk jika mata dalam keadaan berat.
f.
Kelainan sinus. Nyeri bersifat akut atau subakut,
dirasakan dikepala bagian depan, bersifat tumpul atau berat dan biasanya
memburuk dipagi hari, membaik disiang hari dan memburuk dalam keadaan dingin
atau lembab.
g.
Tumor otak. Nyeri baru dirasakan, hilang timbul,
bersifat ringan sampai berat, dirasakan 1 titik/seluruh kepala, kelemahan
disalah satu sisi tubuh semakin meningkat, kejang, gangguan penglihatan,
kemampuan bicara hilang, muntah, perubahan mental.
h.
Infeksi otak (abses). Nyeri baru dirasakan, hilang
timbul, bersifat ringan sampai berat, dirasakan 1 titik/seluruh kepala.
Sebelumnya penderita mengalami infeksi telinga, sinus, atau paru atau penyakit
jantung rematik atau penyakit jantung bawaan.
i.
Infeksi pada jaringan disekitar otak (meningitis).
Nyeri baru dirasakan, menetap, berat, dan dirasakan diseluruh kepala, menjalar
ke leher. Penderita tampak sakit, demam, muntah dan sebelumnya mengalami nyeri
tenggorokan, atau infeksi pernapasan, leher sulit ditekuk.
j.
Hematoma subdural. Nyeri baru dirasakan, hilang
timbul, atau terus menerus, bersifat ringan sampai berat, bisa dirasakan disatu
titik atau diseluruh kepala, menjalar ke leher, sebelumnya telah terjadi
cedera, bisa disertai penurunan kesadaran.
k.
Perdarah subarachnoid. Nyeri baru dirasakan ,
menyerang hebat dan menetap, kadang dirasakan di dalam atau di sekitar mata,
kelopak mata turun.
6.
Diagnosisi
Pada umumnya
tidak dijumpai kelainan yagn spesifik. Oleh karenanya biasanya dokter harus
melakukan anamnesis secara cermat. Apabila tidak atau belum diketemukan adanya
faktor penyebab, maka diagnosis nyeri kepala dapat ditegakkan meskipun sebagai
agnosis simptomatik.
Untuk
menelusuri berbagai kemungkinan faktor penyebab nyeri kepala, uraian berikut
merupakan pola umum yang dapat dipergunakan, dengan catatan harus pandai-pandai
memilih pemeriksaan penunjang agar pilihan tersebut bersifat efektif dan
efisien.
a. Pemeriksaan laboratorium
Darah lengkap, biokimiawi, urine dan
serologi akan dapat menunjukkan adanya sebab-sebab sistemik pada kasus nyeri
kepala kronik yang berulang.
b. Pemeriksaan radiologik.
Yang terpenting dan perlu dipertimbangkan
dilakukan pada keluhan nyeri kepala adalah foto polos kepala, dimana foto
lateral (sisi samping), ajan menggambarkan mengenai kranium, foto
anteroposterior memberi gambaran sinus paranasalis, orbita dan tulang
temporalis.
c. Pemeriksaan EEG
Bila dicurigai ada lesi struktural atau
lesi fokal pada susunan saraf pusat atau otak. Terutama untuk penderita nyeri
kepala anak-anak, EEG merupakan pemeriksaan rutin untuk dilakukan.
d. Pemeriksaan fundus
okulli dan medan penglihatan.
Bermanfaat untuk kecurigaan adanya tekanan
intrakranial yang meninggi atau bila ada tanda disfungsi hemisferium.
e. CT Scan.
Berguna untuk menegakkan diagnosis
etiologik (penyebab) keluhan nyeri kepala. CT Scan dapat memperlihatkan keadaan
patologik intrakranial, suatu keadaan yang tidak dicurigai sebelumnya karena
penderita memperlihatkan status neurologik yang normal.
f. Berbagai pemeriksaan
psikologik.
Bernilai untuk menyusun formulasi
diagnosis, sehingga dapat diperoleh bahan klinik yang jelas dari penderita yang
menolak atau menyembunyikan konflik yang ada.
Diagnosis
banding :
Pemeriksaan mata meliputi perimetri dan tekanan intraokular kadang perlu dikerjakan,
bila dipandang perlu maka penderita dapat dikirim kepada dokter spesialis
mata.
Konsultasi kepada dokter gigi dapat dilakukan
setelah dicurigai adanya faktor gigi sebagai penyebab.
Sementara itu konsultasi kepada dokter spesialis THT dapatdilakukan setelah
diketahui atau dicurigai adanya kemungkinan kelainan di bidang penyakit THT
Kasus tertentu
memerlukan konsultasi dan atau penanganan psikiatri perlu hati-hati dan penjelasan yang cukup agar penderita dan
atau keluarganya tidak kaget atau malu.
7.
Penatalaksanaan
a. pengobatan proses dasar atau kelainan fisiologik spesifik
(kausa etiologi,patogenesa), missal antibiotik untuk infeksi, spasmolitik untuk
kolik, ergot untuk migren, dll termasuk pembedahan bila diperlukan.
b. pengobatan
psikologik/psikiatrik dan atau psikotropik yang bertujuan untuk : menolong
penderita untuk menyesuaikan diri dengan stress akibat nyeri, dan mengobati
faktor2 psikologik yang mnyebabkan atau mengkambuhkan nyeri
c. terapi medikamentosa berupa analgetik untuk pengobatan
simptomatik nyeri, apabila pengobatan spesifik tidak ada atau kurang memadai
d. terapi2 dengan metoda fisik yang sifatnya simptomatik apabila
pengobatan 1,2, dan 3 kurang memadai atau dianggap gagal
e. Hypnotherapy sebagai salah satu alternatif mujarab dalam
penanganan migrain yg disebabkan psikosomatis
MEDIKAMENTOSA
a. Analgetikum, misalnya :
ü Asam salisilat 500 mg tablet, dosis 150 mg/hari.
ü Metampiron 500
mg tablet, dosis 1500 mg/haric.
ü Asam mefenamat 250 – 500 mg tablet, dosis 750
– 1500 mg/hari.
b. Penenang / ansiolitik, misalnya :
· Klordiasepoksid 5 mg tablet, dosis 15-30 mg/hari.
· Klobazepam 10
mg tablet, dosis 20 – 30 mg/haric.
· Lorazepam 1-2 mg tablet, dosis 3 – 6 mg/hari.
c. Antidepresan, misalnya :
o Maprotiline 25, 50, 70 mg tablet, dosis 25 – 75 mg/hari.
o Amineptine 100 mg tablet, dosis 200 mg/hari.
d. Anestesia/analgetik lokal misalnya injeksi prokain
8.
Pencegahan
Pencegahan sakit kepala adalah dengan mengubah
pola hidup yaitu mengatur pola tidur yang sam setiap hari, berolahraga secara
rutin, makan makanansehat dan teratur, kurangi stress, menghindari pemicu sakit
kepala yang telahdiketahui.
9.
Prognosis
Prognosis dari sakit kepala bergantung pada jenis
sakit kepalanya sedangkanindikasi merujuk adalahsebagai berikut: (1) sakit
kepala yang tiba ± tiba dan timbulkekakuan di leher, (2) sakit kepala dengan
demam dan kehilangan kesadaran, (3) sakitkepala setelah terkena trauma mekanik
pada kepala, (4) sakit kepala disertai sakit pada bagian mata dan telinga,
(5) sakit kepala yang menetap pada pasien yangsebelumnya
tidak pernah mengalami serangan, (6) sakit kepala yang rekuren pada anak
MEMAHAMI DAN MENJELASKAN GANGGUAN SOMATOFORM
1. Definisi
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala
fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual,
dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup
serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau
gangguan pada kemampuan penderita untuk
berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan.
2. Klasifikasi
· Gangguan
somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
· Gangguan
konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
· Hipokondriasis
ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa
ia menderita penyakit tertentu.
· Gangguan
dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami
cacat.
· Gangguan
nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna
dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan
somatoform
· Undiferrentiated
somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau
lebih.
3. Etiologi
Terdapat faktor psikososial berupa konflik
psikologis di bawah sadar yangmempunyai tujuan tertentu. Pada beberapa kasus
ditemukan faktor genetik dalamtransmisi
gangguan ini. Selain itu, dihubungkan pula dengan adanya penurunanmetabolism
(hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non
dominan.
a.
Faktor-faktor Biologis
Faktor
ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada gangguan
somatisasi)
b.
Faktor Lingkungan Sosial
Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih
bergantung, seperti “peran sakit” yang dapat diekspresikan
dalam bentuk gangguan somatoform
c.
Faktor perilaku
Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda
yang terlibat adalah:
· Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau
menghindar darisituasi yang tidak nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungansekunder).
· Adanya perhatian untuk menampilkan “peran
sakit”
· Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau
gangguan dismorfik tubuh dapat secara sebagian
membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran
akan kesehatan atau kerusakan fisik yang dipersepsikan.
d.
Faktor emosi dan kognitif
Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan
emosi dan kognitif, penyebabganda yang terlibat adalah sebagai berikut :
·
Salah
interpretasi dari perubahan tubuh atau simtom fisik sebagai tandadari adanya
penyakit serius (hipokondriasis)
·
Dalam teori Freudian
tradisional, energi psikis yang terpotong dari impuls-impuls yang tidak dapat diterima dikonversikan ke dalam simtom
fisik (gangguan konversi).
·
Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkinmerupakan suatu strategi
self-handicaping (hipokondriasis)
4.
Manifestasi klinis
a. Gangguan somatisasi.
Ciri utama adalah adanya gejala fisik
yang bermacam-macam (multiple), berulang dan sering berubah-ubah. Biasanya
sudah berlangsung bertahun-tahun (sekurang-kurangnya 2 tahun), disertai riwayat
pengobatan yang panjang dan sangat kompleks, baik ke pelayanan kesehatan dasar
maupun spesialistik, dengan hasil pemeriksaan atau bahkan operasi yang negatif
hasilnya (‘doctor’ shopping). Keluhannya dapat mengenai setiap sistem atau
bagian tubuh yang manapun, tetapi yang paling lazim adalah keluhan gangguan
gastrointestinal (perasaan sakit perut, kembung, berdahak, mual , muntah dan
sebagainya), keluhan perasaan abnormal pada kulit (perasaan gatal, rasa
terbakar, kesemutan, baal, pedih dan sebagainya) serta bercak-bercak pada
kulit, keluhan mengenai seksual dan haid sering muncul. sering terdapat
anxietas dan depresi yang nyata sehingga memerlukan terapi khusus fungsi dalam
keluarga dan masyarakat terganggu, berkaitan dengan sifat keluhan dan dampak
pada perilakunya. Lebih sering terjadi pada wanita dan biasanya muncul pada
usia remaja akhir / dewasa muda, dapat pula ditemukan pada pra-pubertas.
Ketergantungan atau penyalahgunakan
obat-obatan (biasanya sedativa dan analgetika) terjadi akibah seringnya
menjalani rangkaian pengobatan. Termasuk: gangguan psikosomatik multiple.
b. Gangguan hipokondrik.
Ciri utama adalah preokupasi yang
menetap akan kemungkinan menderita satu atau lebih gangguan fisik yang serius
dan progresif. Pasien menunjukkan keluhan somatik yang menetap atau preokupasi
terhadap adanya deformitas atau perubahan bentuk / penampilan , Perhatian
biasanya hanya terfokus pada satu atau dua organ / sistem tubuh . Tidak mau
menerima nasihat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan
penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhannya. Sering disertai
depresi dan anxietas yang berat gangguan Hipokondrik ditemukan pada laki-laki
maupun wanita sama banyaknya.
c. Disfungsi otonomik
somatoform.
Keluhan fisik yang ditampilkan pasien
seakan akan merupakan gejala dari sistem saraf otonom, misalnya sistem
kardiovaskuler, gastrointestinal (gastric neurosis dan nervous diarrhoea), atau
pernafasan (hiperventilasi psikogenik dan cegukan). Gejala yang nampak dapat
berupatanda objektif rangsangan otonom , seperti palpitasi berkeringat, muka
panas / merah (flushing), dan tremor. Selain itu dapat pula berupa tanda
subjektif dan tidak khas, seperti perasaan sakit, nyeri, rasa terbakar, rasa
berat, rasa kencang, atau perasaan badan seperti mengembang. Juga ditemukan
adanya bukti stres psikologis atau yang nampaknya berkaitan dengan gangguan
ini. Tidak terbukkti adanya gangguan yang bermakna pada struktur atau fungsi
dari sistem atau organ yang dimaksud.
d. Gangguan nyeri
somatoform menetap.
Keluhan yang menonjol adalah nyeri
berat, menyiksa dan menetap, yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya atas dasar
proses fisiologis maupun adanya gangguan fisik, nyeri timbul berkaitan dengan
adanya konflik yang berdampak emosional atau problem psikososial yang cukup
jelas, yang berdampak meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal maupun
medis untuk bersangkutan.
e. Gangguan konversi.
Gangguan konversi dicirikan oleh
suatu perubahan besar dalam fungsi fisik atau hilangnya fungsi fisik, meski
tidak ada ketentuan medis yang dapat ditemukan sebagai penyebab simton atau
kemunduran fisik tersebut. Orang tersebut tidak melakukan malingering. Simtom
fisik biasanya timbul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan. Tangan
seorang tentara dapat menjadi ‘lumpuh’ saat pertempuran yang hebat, misalnya.
Gangguan konversi dinamakan demikaian
karena adanya keyakinan pikodinamika bahwa gangguan terebut mencerminkan
penyaluran, atu konversi, dari energi seksual atau agresif yang direpresikan ke
simtom fisik. Gangguan konversi sebelumnya dinamakan neurosis histerikal atau
histeria, dan memainkan peranan penting dalam perkembangan psikoanalisis Freud.
Beberapa pola simtom klaik melibatkan
kelumpuhan, epilepsi, masalah daklam koordinasi, kebutaan dan tunnel vision
(hanya bisa melihat apa yang tepat berada di depan mata), kehilangan indra
pendengaran, atau penciuman, atau kehilangan rasa pada anggota badan
(anestesi). Simtom-simtom tubuh yang ditemukan dalam gangguan konversi
seringkali tidak sesuai dengan kondisi medis yang mengacu. Misalnya konversi
epilepsi, tidak seperti pasien epilepsi yang sebenarnya, yang dapat
mempertahankan kontrol pembuangan pada saat kambuh.
Bila Anda kehilangan penglihatan atau
tidak dapat menggerakan kaki Anda secara tiba-tiba, Anda mungkin akan menunjukkan
kekhawatiran yang dapat dimengerti. Namun beberapa orang dengan gangguan
konversi, eperti mereka yang mengalami amnesia disosiatif, menunjukkan
ketidakpedulian yang mengejutkan terhadap simtom-simtom yang muncul, suatu
fenomena yang diitilahkan sebagai la belle indifference (ketidakpedulian yang
indah)
f. Gangguan dismorfik
tubuh.
Orang dengan gangguan dismorfik tubuh
(body dismorphic disorder/BDD) terpaku pada kerusakan fiik yang dibayangkan
atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan
waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri di depan cermin dan mengambil tindakan
yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, bahkan
menjalani operasi plastik. Orang dengan BDD dapat percaya bahwa orang lain memandang
diri mereka jelek atau berubah bentuk menjadi rusak dan bahwa penampilan fisik
mereka yang tidak menarik mendorong orang lain untuk berfikir negative tentang
karakter atau harga diri mereka sebagai seorang manusia.
Misalnya adalah seseorang yang mengalami
‘hari buruk untuk rambutnya’ maka ia merasa malu untuk keluar dengan
teman-temannya dan etipa detik dihabikan dengan memerika dirinya di depan
cermin dan memperbaiki rambutnya. Kadang ia akan memotong rambutnya endiri
untuk memperbaiki yang jutru membuatnya semakin buruk. Contoh lain adalah orang
yang merasa wajahnya terlalu rata tidak mau difoto dan tidak dapat menahan diri
berpikir apa yang orang lain pikirkan mengenai dirinya.
g. Sindrom Koro
Sindrom Koro adalah sebuah sindrom
yang ditemukan terutama di Cina dan sejumlah negara Timur Jauh lainnya. Orang
dengan sindrom koro takut alat genital mereka mengecil dan masuk ke dalam
tubuh, yang mereka percaya dapat menyebabkan kematian. Tanda-tanda fisiologis
kecemasan yang mendekati proporsi panik umum terjadi, mencakup keringat yang
berlebihan, tidak dapat bernafas, dan jantung berdebar-debar.
Sindrom koro telah ditemukan dalam
budaya Cina sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Epidemic yang melibatkan ratusan
bahkan ribuan orang telah dilaporkan di Cina, Singapura, Thailand, dan India.
Pembuktian medis bahwa ketakutan emacam itu tidak berdasar seringkali mengatasi
episode koro. Namun pembuktian medis biasanya gagal untuk mengurangi
kekhawatiran orang Barat yang menderita hipokondriansis. Episode koro yang
terjadi diantara mereka yang tidak dapat menerima informasi yang benar
cenderung berlalu dengan berjalannya waktu namun dapat muncul kembali.
5. Diagnosis
Diagnosis berdasarkan klasifikasi :
a. Gangguan somatisasi
Kriteria diagnosis gangguan somatisasi berdasarkan DSM
IV:
·
Riayat banyak keluhan fisik dengan onset sebelum usia
30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan menyebabkan gangguan
bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
·
Tiap kriteia
berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada
sembarang waktu selama perjalanan gangguan.
o
Empat gejala nyeri: Riwayat nyeri yang berhubungan
dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlebihan (misalnya: kepala,
perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama
hubungan seksual, atau selama miksi).
o
Dua gejala
gastrointestinal: Riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain dari
nyeri (misalnya: mual, kembung, muntah selain dari kehamilan, diare, atau
intoleransi terhadap berbagai jenis makanan).
o
Satu gejala
seksual: Riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduksi selain dari
nyeri (misalnya: indiferensi seksual, disfungsi erektil, atau ejakulasi,
menstruasi yang tidak teratur, perdaraahan menstruasi yang berlebih, muntah
sepanjang kehamilan).
o
Satu gejala
pseudoneurologis: Riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan
pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti
gangguaan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat,
sulit menelan atau benjolan ditenggorokan, retensi urin, hilangnya sensasi
sentuh atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang, gejala
disosiatif seperti amnesia atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
·
Salah satu (1) atau (2) :
o
Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam
kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang
dikenal atau efek langsung dari suatu zat (misalnya: efek cedera, medikasi,
obat atau alkohol).
o
Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik
atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya melebihi apa yang
diperkirakan dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium.
·
Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau
dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau pura-pura).(1)
Diagnosis
pasti gangguan somatisasi berdasarkan PPDGJ III:
ü Ada banyak dan berbagai
gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan adanya kelainan fisik yang sudah
berlangsung sekitar 2 tahun.
ü Selalu tidak mau menerima nasehat atau
penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat
menjelaskan keluhan-keluhannya.
ü Terdapat disabilitas dalam fungsinya di
masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan sifat keluhan-keluhannya dan
dampaak daari perilakunya.
Diagnosis
banding : Klinisi
harus selalu menyingkirkan kondisi medis nonpsikiatrik yang dapat menjelaskan gejala pasien. Gangguan
medis tersebut adalah sklerosis multiple, miastenia gravis, lupus eritematosus
sistemik kronis. Selain itu juga harus dibedakan
dari gangguan depresi berat, gangguan kecemasan (anxietas), gangguan
hipokondrik dan skizofrenia dengan
gangguan waham somatik.
b. Gangguan
somatoform tak terperinci
Kriteria diagnostik :
·
Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan gastrointestinal
atau saluran kemih)
·
Salah satu (1)atau (2)
A.
Setelah
pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi
medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dari suatu zat
(misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
B.
ika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau
gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang
diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan
laboratonium.
·
Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis
atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi pentinglainnya. Durasi
gangguan sekurangnya enam bulan.
·
Gangguan tidak
dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan
somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan
tidur, atau gangguan psikotik).
·
Gejala tidak
ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
berpura-pura)
Diagnosis multiaksial
·
Axis
I : Gangguan somatoform, somatisasi
·
Axis
II : tidak ada diagnosisi aksis II
·
Axis
III : tidak ada diagnosis aksis III (????)
·
Axis IV :
???
·
Axis V :
61-70
c.
Gangguan hipokondriasis
v Perokupasi (keterpakuan) dengan ketakutan menderita, ide bahwa ia menderita
suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut
terhadap gejala-gejala tubuh.
v Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat
v Tidak disertai dengan waham dan tidak terbatas pada kekhawatiran tentang
penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
v Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain. Lama
gangguan sekurangnya 6 bulan.
v Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas
perpisahan, atau gangguan somatoform lain.
Diagnosis multiaksial
ü
Axis I : Gangguan
somatoform, somatisasi
ü
Axis II : tidak ada
diagnosisi aksis II
ü
Axis III : tidak ada
diagnosis aksis III (????)
ü
Axis IV : ???
ü
Axis V : 51-60 gejala
sedang, disabilitas sedang
d.
Gangguan disfungsi otonomik somatoform
Kriteria diagnostik yang diperlukan :
§ ada gejala bangkitan otonomik ex, palpitasi, berkeringat, tremor, muka
panas, yang sifatnya menetap dan mengganggu
§ gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (tidak
khas)
§ preokupasi dengan penderitaan mengenai kemungkinan adanya gangguan yang
serius yang menimpanya, yang tidak terpengaruh oleh hasil Px maupun penjelasan
dari dokter
§ tidak terbukti adanya gangguan tang cukup berarti pada struktur/fungsi dari
sistem/organ yang dimaksud
kriteria ke 5, ditambahkan :
F.45.30 = JANTUNG DAN SISTEM KARDIOVASKULAR
F.45.31 = SALURAN PENCERNAAN BGN ATAS
F.45.32 = SALURAN PENCERNAAN BGN BAWAH
F.45.33 = SISTEM PERNAPASAN
F.45.34 = SISTEM GENITO-URINARIA
F.45.38 = SISTEM ATAU ORGAN LAINNYA
e.
Gangguan nyeri yang menetap
Kriteria Diagnostik untuk
Gangguan Nyeri
·
Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis
·
Nyeri
menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
·
Faktor
psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi
atau bertahannnya nyeri.
·
Gejala atau
defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
·
Nyeri tidak
dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan
psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Diagnosis Multiaksial
Axis I : gangguan somatoform, nyeri menetap
Axis II : tidak ada diagnosis aksis II
Axis III : tidak ada (???)
Axis IV : ????
Axis V : 51-60 gejala sedang, disabilitas sedang
f.
Gangguan nyeri yang menetap
Pedoman Diagnostik :
v keluhan yanga da tidak melalui saraf otonom, terbatas secara spesifik pd
bgn tubuh/sistem tertentu
v tidak ada kaitan dengan adanya kerusakan jaringan
v termasuk didalamnya, pruritus psikogenik, ”globus histericus”(perasaan ad
benjolan di kerongkongan>>>disfagia) dan dismenore psikogenik
Diagnosis
banding : Gangguan dismorfik tubuh, bukan gangguan somatoform (gejala
somatoform yang tidak bermakna secara klinis)
6.
penatalaksanaa
Farmakologi :
Obat transquilizer
dan psikotropika
Obat ansietas
Obat anti depresan
Non farmakologi :
v Gngguan dismorfik
tubuh
Pengobatan: terapi
perilaku kognitif membantu pasien mengidentifikasi dan menantang gangguan
presepsi tubuh dan gangguan berfikir kritis, terutama menghadapi pemajanan yang
terarah dan pencegahan respon.
v Gangguan
hipokondriasis
Pengobatan: terapi
perilaku kognitif terbukti bermanfaat dalam mengoreksi informasi yang salah dan
keyakinan yang berlebihan, juga menunjukan proses kognitif yang mempertahankan
rasa sakit akan penyakit pada hipokondria.
v Gangguan nyeri
Pengobatan: perilaku
kognitif individu dan kelompok mengurangi distres yang berhubungan dengan nyeri
dan disabilitas. Anti depresan mengurangi intensitas nyeri.
v Gangguan tidur
Pengobatan:benzodiazepin
dan zolpidem biasanya mengurangi awetan tidur 15-30 menit, mengurangi jumlah
waktu bangun pada tingkat absolut 1-3 kali per malam dan meningkatkan total
tidur sekitar 15-45 menit.
MEMAHAMI DAN
MENJELASKAN KELUARGA SAKINAH MAWADAH WARAHMAH DALAM PANDANGAN ISLAM
Memasuki dunia baru bagi pasangan baru,
atau lebih dikenal dengan pengantin baru memang merupakan suatu yang
membahagiakan. Tetapi bukan berarti tanpa kesulitan. Dari pertama kali
melangkah ke pelaminan, semuanya sudah akan terasa lain. Lepas dari
ketergantungan terhadap orang tua, teman, saudara, untuk kemudian mencoba hidup
bersama orang – yang mungkin – belum pernah kenal sebelumnya. Semua ini
memerlukan persiapan khusus (walaupun sebelumnya sudah kenal), agar tidak terjebak
dalam sebuah dilema rumah tangga yang dapat mendatangkan penyesalan di kemudian
hari. Diantara persiapan yang harus dilakukan oleh pasangan baru yang akan
mengarungi bahtera rumah tangga:
- Persiapan mental. Perpindahan dari dunia remaja memasuki fase dewasa –
di bawah naungan perkawinan – akan sangat berpengaruh terhadap psikologis,
sehingga diperlukan persiapan mental dalam menyandang jabatan baru,
sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga. Kalaupun sekarang anda
telah terlanjur menyandang predikat tersebut sebelum anda sempat berpikir
sebelumnya, anda belum terlambat. Anda bisa memulainya dari sekarang,
menyiapkan mental anda lewat buku-buku bacaan tentang cara-cara berumah
tangga, atau anda dapat belajar dari orang-orang terdekat, yang dapat memberikan
nasehat bagi rumah tangga anda
- engenali Pasangan. Kalau dulu orang dekat anda adalah ibu, teman, atau
saudara anda yang telah anda kenal sejak kecil, tetapi sekarang orang yang
nomor satu bagi anda adalah pasangan anda. Walaupun pasangan anda adalah
orang yang telah anda kenal sebelumnya, katakanlah dalam masa pacaran,
tetapi hal ini belumlah menjamin bahwa anda telah benar-benar mengenal
kepribadiannya. Keadaannya lain. Masa pacaran dengan lingkungan rumah
tangga jauh berbeda. Apalagi jika pasangan anda adalah orang yang belum
pernah anda kenal sebelumnya. Disini perlu adanya penyesuaian-penyesuaian.
Anda harus mengenal lebih jauh bagi pasangan anda, segala kekurangan dan
kelebihannya, untuk kemudian anda pahami bagaimana sebaiknya anda bersikap,
tanpa harus mempersoalkan semuanya. Karena sesungguhnya anda bersama
pasangan anda hidup dalam rumah tangga untuk saling melengkapi satu dengan
yang lainnya, sehingga tercipta keharmonisan.
- Menyusun agenda Kegiatan. Kesibukan anda sebagai ibu rumah tangga atau
kepala rumah tangga tentunya akan lebih banyak menyita waktu di banding
ketika anda masih sendiri. Hari-hari kemarin bisa saja anda mengikuti
segala macam kegiatan yang anda sukai kapan saja anda mau. Persoalannya
sekarang adalah anda tidak sendiri, kehadiran pasangan anda disamping anda
tidak boleh anda abaikan. Tetapi anda tak perlu menarik diri dari
aktifitas atau kegiatan yang anda butuhkan. Anda dapat membuat agenda
untuk efektifitas kerja, anda pilah, dan anda pilih kegiatan apa yang
sekiranya dapat anda ikuti sesuai dengan waktu yang anda miliki dengan
tanpa mengganggu tugas anda sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah
tangga.
- Mempelajari kesenangan pasangan. Perhatian-perhatian kecil akan
mempunyai nilai tersendiri bagi pasangan anda, apalagi di awal perkawinan
anda. Anda dapat melakukannya dengan mempelajari kesenangan pasangan anda,
mulai dari selera makan, kebiasaan, hobi yang tersimpan dan lainnya. Tidak
menjadi masalah jika ternyata apa yang disenanginya tidak anda senangi.
Anda bisa mempersiapkan kopi dan makanan kesukaannya disaat pasangan anda
yang punya hobi membaca sedang membuka-buka buku. Atau anda bisa
sekali-kali menyisihkan waktu untuk sekedar mengantar pasangan anda
berbelanja, untuk menyenangkan hatinya. Atau kalau mungkin anda bisa
memadukan hobi anda yang ternyata sama, dengan demikian anda telah
memasang saham kasih sayang di hati pasangan anda sebagai kesan pertama,
karena kesan pertama akan selalu diingatnya. Kesan pertama begitu
menggoda, selanjutnya terserah anda (kayak iklan saja). Dan anda bisa
menjadikannya sebagai kebiasaan yang istimewa dalam rumah tangga anda.
- Adaptasi lingkungan. Lingkungan keluarga, famili dan masyarakat baru
sudah pasti akan anda hadapi. Anda harus bisa membawa diri untuk masuk
dalam kebiasaan-kebiasaan (adat) yang ada di dalamnya. Kalau anda siap
menerima kehadiran pasangan anda, berarti pula anda harus siap menerimanya
bersama keluarga dan masyarakat disekitarnya. Awalnya mungkin anda akan
merasa asing, kaku, tapi semuanya akan terbiasa jika anda mau membuka diri
untuk bergaul dengan mereka, mengikuti adat yang ada, walaupun anda kurang
menyukainya. Sehingga akan terjalin keakraban antara anda dengan keluarga,
famili dan lingkungan masyarakat yang baru. Karena hakekat pernikahan
bukan perkawinan antara anda dan pasangan anda, tetapi, lebih luas lagi
antara keluarga anda dan keluarga pasangan anda, antara desa anda dengan
desa pasangan anda, antara bahasa anda dengan bahasa pasangan anda, antara
kebiasaan (adat) anda dengan kebiasaan pasangan anda. Dst.
- Menanamkan rasa saling percaya. Tidak salah jika suatu saat anda
merasa curiga dan cemburu. Tetapi harus anda ingat, faktor apa yang
membuat anda cemburu dan seberapa besar porsinya. Tidak lucu jika anda
melakukannya hanya dengan berdasar perasaan. Hal itu boleh saja untuk
sekedar mengungkapkan rasa cinta, tetapi tidak baik juga kalau terlalu
berlebihan. Sebaiknya anda menanamkan sikap saling percaya, sehingga anda
akan merasa tenang, tidak diperbudak oleh perasaan sendiri. Yakinkan,
bahwa pasangan anda adalah orang terbaik yang anda kenal, yang sangat anda
cintai dan buktikan juga bahwa anda sangat membutuhkan kehadirannya,
kemudian bersikaplah secara terbuka.
- Musyawarah. Persoalan-persoalan yang timbul dalam rumah tangga harus
dihadapi secara dewasa. Upayakan dalam memecahkan persoalan anda mengajak
pasangan anda untuk bermusyawarah. Demikian juga dalam mengatur
perencanaan-perencanaan dalam rumah tangga, sekecil apapun masalah yang
anda hadapi, semudah apapun rencana yang anda susun. Anda bisa memilih
waktu-waktu yang tepat untuk saling tukar pikiran, bisa di saat santai,
nonton atau dimana saja sekiranya pasangan anda sedang dalam keadaan
bugar.
- Menciptakan suasana Islami. Suasana Islami ini bisa anda bentuk
melalui penataan ruang, gerak, tingkah laku keseharian anda dan lain-lain.
Sholat berjama’ah bersama pasangan anda, ngaji bersama (tidak perlu setiap
waktu, cukup habis maghrib atau shubuh), mendatangi majlis ta’lim bersama
dan memnbuat kegiatan yang Islami dalam rumah tangga anda. Hal ini akan menambah
eratnya ikatan bathin antara anda dan pasangan anda. Dari sini akan
terbentuk suasana Islami, Sakinah, Mawaddah wa Rahmah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar