Kamis, 16 Mei 2013

STROKE



STROKE
MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI DAN FISIOLOGI MAKRO-MIKRO
1.    Saraf cranialis

Nervus olfaktorius (NC. I)
Jalan : menembus lubang-lubang lamina cribrosa ossis ethmoidalis menuju bulbus olfactorius yang terletak tepat diatas lamina cribosa. Oleh karena n.olfaktorius tdd banyak saraf maka disebut sebagai fila olfactorius.
Tractus olfactorius a/ berkas serabut saraf yang jalan dari bagiam belakang bulbus olfactorius di bawah lobus frontalis
Tractus olfactorius dibentuk oleh axon sel mitra dan tufted cell.
N.olfactorius tidak melewati thalamus.
Dari cortex olfactorius primarius selalu dikirimkan serabut  penghubung ke berbagai nuclei didalam otak, sehingga penciuman merupakan sensasi yang tidak bisa dipisahkan dari respon emosional dan sistem saraf otonomnya.
background image
Nervus  opticus (NC. II)
Receptor : sel ganglion pada retina
Jalan : axon dari sel ganglion retina menuju discus opticus kemudian keluar dari bola mata kira-kira 3-4 mm pada sisi nasalis dari pusat bola mata. Axon sel ganglion membentuk n.opticus yang keluar dari orbita membentuk chiasma opticus. Dari chiasma opticus terbentuk tractus opticus. Tractus opticus jalan ke posterolateral mengelilingi pedunculus cerebri, untuk bersinaps dengan saraf yang terdapat pada corpus geniculatum laterale. Sebagian kecil tractus opticus jalan menuju nucleus pretectum dan colliculus superior yang berfungsi dalam refleks sinar.
Pusat : corpus geniculatum laterale.
Fungsi : Nervus optik merupakan saraf  somatik spesial afferen yang artinya spesial sensoris yang serabut sarafnya hanya di ada di intrakranial dan tidak ada di batang otak dan spesial sense ( hearing, vision, balance dan smell ).  Sel fotoreseptor pada retina menjadi reseptor dalam menerima informasi visual. Informasi visual berupa cahaya yang akan diubah menjadi impuls saraf yang akan dihantarkan oleh nervus optik sampai ke korteks penglihatan kita sehingga akhirnya kita dapat melihat suatu objek. ( secara detail dibahas di sari pustaka lintas penglihatan )

Nervus occulomotorius (NC.III)
Nervus okulomotor dalam perjalanannya akan melalui daerah-daerah  sebagai berikut :
-        Bagian intraparenkim di mid brain. Serabut saraf berjalan dari nukleusnya di daerah dorsal tegmentum midbrain,  melewati red nukleus dan  menuju ventral keluar ke mid brain pada bagian medial dari pedunkulus serebri di colliculus superior.
-          Bagian subarachnoid. Setelah keluar dari bagian ventral dari mesencephalon  selanjutnya akan memasuki ruang subarachnoid di depan midbrain pada fossa interpedunkular, dan lewat diantara arteri cerebellaris superior dan arteri cerebralis posterior dan di proksimal dari arteri komunikans posterior.
-          Bagian sinus cavernosus.  Sebelum memasuki sinus cavernosus nervus okulomotor akan menembus duramater di dekat prosesus klinoideus posterior dan selanjutnya akan memasuki sinus cavernousus yang juga berisi nervus trokhlearis, nervus abdusen, nervus trigeminus dan arteri karotis interna. Nervus III  akan berjalan di dinding lateral atas dari sinus cavernus superior, tepat dibawah ligamentum petroclinoid.
-          Bagian Orbita. Nervus III akan memasuki ruang orbita melalui fissura orbitalis superior, dan akan membagi diri menjadi 2 cabang besar yaitu  cabang superior dan inferior.
Setelah keluar dari fissura orbitalis superior, selanjutnya nervus okulomotor akan mempercabangkan dirinya  menjadi dua divisi besar yaitu :
-      divisi superior yang akan menginervasi   m.levator palpebra dan m.rektus superior,
-      divisi  inferior akan menginervasi m. rektus medial, m. rektus inferior dan m.obliqus inferior.
Cabang dari obliqus inferior selanjutnya akan mempercabangkan  serabut parasimpatis preganglion dari nukleus Edinger westphal yang akan menginervasi m.spinkter pupil dan otot-otot siliaris.
Fungsinya  ada 2 yaitu :
·         General Somatik efferen ( motoris) dimana serabut sarafnya yang berasal dari nukleus motorik  akan menginervasi  5 otot ekstra okuler , yaitu :
      M. Rectus superior untuk pergerakan mata keatas
      M. Rectus medial untuk pergerakan  ke medial
      M. Rectus inferior untuk pergerakan mata kebawah
      M. Obliqus Superior untuk pergerakan mata ke atas dan ke medial
      M Levator palpebra untuk pergerakan bola mata keatas
·         General Visceral Efferen yaitu serabut nervus okulomotor preganglionik para simpatis  yang berasal dari nukleus Edinger Westphal akan menginervasi  otot spinkter pupil yang akan mengkonstriksikan pupil dan muskulus siliaris yang akan mengatur akomodasi.

Nervus trochlearis (NC.IV)
Nervus trochlearis sangat unik karena serabut sarafnya yang berjalan ke dorsal akan menyilang garis tengah sebelum keluar ke brainstem, akibatnya lesi setinggi nukleus akan bersifat kontralateral sedangkan pada nervusnya akan ipsilateral.
 Serabut sarafnya setelah meninggalkan nukleusnya akan memutar ke caudal mesencephalon di periaquaductal grey. Selanjutnya ke medial kembali untuk menyilang garis tengah dan akhirnya akan keluar ke permukaan dorsal (bukannya ventral) antara pons dan  midbrain junction.
Selanjutnya akan memasuki ruang subarachnoid dimana akan berjalan antara arteri serebralis posterior dan arteri serebellaris superior.
Setelah menembus duramater akan memasuki sinus cavernosus di dinding lateralnya, dimana akan bergabung bersama N. III , N.VI, a.karotis interna dan N. V.  Nervus trokhlear akanberada di bawah nervus III dan diatas dari cabang opthalmik dari nervus V. Akhirnya akan memasuki fissura orbitalis superior tapi diluar dari annulus Zinn lalu berjalan diatasnya dan akhirnya akan menginervasi m.obliqus superior.
Fungsi : Nervus trokhlearis berfungsi sebagai general somatik efferent (motorik) yang akan menginervasi m.oblique superior yang membuat bola mata bergerak ke bawah dan ke lateral.

Nrvus trigeminus (NC.V)
Nervus trigeminus setelah keluar dari nukleusnya di sepanjang mesencephalon, pons sampai ke medula oblongata, serabut-serabutnya akan bergabung membentuk ganglion Gasseri / Semilunar  di daerah Meckel Cave  yang selanjutnya akan memasuki ruang subarachnoid. Setelah dari ruang subarachnoid akan menembus duramater dan memasuki ruang sinus cavernosus  yaitu cabang opthalmik dan cabang maksilaris.
 Di ruang sinus cavernosus akan berada di nervus ini akan berada di bagian inferior pada sinus cavernosus posterior, tapi setelah di bagian anterior, nervus ini akan berada di superior sebelum akhinya  cabang opthalmik ( V1 ) akan memasuki fissura orbitalis superior yang selanjutnya akan memasuki rongga orbita yang akan menuju ke kulit dahi dan puncak kepala. Sedangkan cabang maksilaris akan memasuki cranium melalui foramen rotundum. Serabut saraf sensorisnya akan mencapai fossa pterigopalatina melalui fissura orbitalis inferior ( wajah, dagu dan gi gi atas ) dan melalui kanalis pterigopalatina ( langit-langit, mukosa hidung dan farings). Cabang mandibularis akan memasuki foramen ovale dan akan menginervasi lidah, gigi bawah, dan kulit rahang bawah.
Percabangan :
·       Nervus Opthalmicus ( V1)
Saraf ini merupakan cabang pertama bersifat sensoris yang pempersarafi glandula lacrimalis, conjuntiva, mukosa cavum nasi, kulit hidung, palpebra, dahi dan kulit kepala. Membentang ke ventral di dinding sinus lateral cavernosus dibawah n.okulamotorius dan nervus trokhlearis. Menerima serabut simpatis dari pleksus karotikus internus , sebelum memasuki fissura orbitaris superior.
Selanjutnya bercabang  menjadi :
a.      N .Lakrimalis 
 cabang terkecil memasuki orbita melalui tepi lateral fissura orbitalis  superior, membentang pada tepi atas m.rectus lateralis bersama-sama a.lakrimalis. Menerima r.zygomatikus n.maksilaris mengandung serabut sekretori  untuk glandula lakrimalis.
b.     N .Frontalis  
memasuki rongga orbita melalui bagian superior  fissura orbitalis superior  terletak diatas otot dan membentang diantara m.levator palpebra superior dan peiosteum. Pada pertengahan orbita bercabang dua menjadi n.supratroclearis dan n.supraorbitalis.
c.     N.nasosiliaris;  masuk orbita melalui bagian medial fissura orbitalis superior, menyilang n.optikus menuju dinding medial orbita dan selanjutnya sebagai n.ethmoidalis anterior, masuk kedalam cavum cranii melalui foramen ethmoidalis anterior, berjalan diatas lamina kribosa dan turun ke cavum nasi melalui celah disisi crista gali. N.nasosiliaris menerima r.komunikan ganglion siliaris dan mempercabangkan n.siliaris longus, n. siliaris brevis, n.infratrochlearis dan  n.ethmoidalis posterior

·       Nervus Maksilaris
Dari ganglion trigeminal divisi ini berjalan kedepan pada dinding lateral sinus cavernosus dibawah N.VI, dan meninggalkan fossa crani melalui foramen rotundum dan memasuki bagian superior dari fossa pterygopalatina.
Sesudah memutari sisi lateral processus orbitalis dari os platina, memasuki orbital melalui fissura orbitalis inferior. Berjalan kedepan pada sulcus infraorbitali pada orbital floor dan berubah nama menjadi n.infraobita. Selanjutnya memasuki canalis dan keluar pada pipi melalui foramen infraorbitalis untuk mempersarafi kulit palpebra inferior, kulit sisi hidung dan pipi, bibir atas dan mucosa bibir atas dan pipi.

·       Nervus mandibularis
Divisi ini merupakan divisi yang terbesar. Divisi ini tidak menginervasi orbita.
Fungsi nervus trigeminus :
 Cabang opthalmik adalah general somatik afferent /sensoris ( tactile, proprioceptif, dan nosiseptif ), dimana :
          -  cabang frontal  akan mempercabangkan nervus supratrokhlearis yang akan
               membawa rangsang  sensoris untuk konjungtiva dan kelopak mata atas dan
               kulit dahi bagian bawah serta nervus supraorbitalis yang akan mensuplai
               palpebra inferior , konjungtiva dan sebagian kulit dahi.
          -  cabang lakrimal akan membawa rangsang  sensoris dari kelenjar lakrimal
              melalui post ganglion pterigopalatina, serta konjungtiva dan kulit sekitar
              sudut  mata bagian lateral.
        -  Cabang nasosiliaris akan mempercabangkan :
             @  infratrokhlearis yang akan menginervasi untuk sistem drainase lakrimal,
                  konjungtiva dan kulit sekitar kantus medial.
             @  nervus siliaris longus akan membawa serabut sensoris dari badan siliar,
                   iris dan  kornea dan  membawa serabut saraf simpatis ke otot dilatator
                   pupil,                        
           @  nervus siliaris brevis akan membawa serabut saraf parasimpatis yang
                 menginervasi  otot konstriktor pupil dan m siliaris , serta akan membawa
                 serabut simpatis yang akan menginervasi otot dilatator pupil dan
                 m.Tarsalis superior.
Cabang maksillaris adalah serabut general somatik afferent/sensoris untuk kelopak mata inferior, bibir atas, gusi dan gigi bagian atas, dagu, hidung, dan sebagian farings serta sinus frontal, ethmoid dan maxillaris.
 Cabang mandibular adalah sensoris untuk gusi bawah, gigi, bibir  bawah sedangkan motoris untuk lidah ,  langit-langit dan otot-otot mengunyah.

Nervus abducens (N.VI)
Nukleus nervus abdusen berada di medial dari nukleus  nervus facialis di pons, serabut saraf nervus abdusen akan berjalan keatas dan kedepan di dalam  pons dan akhirnya keluar di perbatasan bagian bawah pons dan bagian atas  medulla oblongata.
Serabut saraf selanjutnya  memasuki ruang subarachnoid dan akan menembus duramater pada dorsum sella dari tulang sphenoid, berjalan terus dibawah prosessus clinoid superior dan memasuki sinus cavernosus pada sisi lateral dari arteri karotis interna, dimana nervus okulomotor, nervus trokhlearis dan nervus opthalmikus berada di sisi lateral dari sinus cavernosus. Selanjutnya akan memasuki orbita melalui fissura orbitalis superior dibawah  vena oftalmika . Akhirnya berjalan diantara 2 caput m.rektus lateral dan akan menginervasi muskulus tersebut.
Fungsi : Sebagai General Somatik Efferent ( motorik ) dengan menginervasi otot m.rektus lateral yang membuat bola mata bergerak ke arah lateral.

Nervus facialis (NC.VII)
Nervus facialis adalah campuran serabut sensoris dan motoris. Nervus ini akan berjalan ke ventral midbrain setelah keluar dari nukleusnya di pons. Disebut nervus sekretomotorik karena dalam perjalanannya akan bergabung dengan nervus intermedius yang merupakan nervus sekretomotorik untuk kelenjar salivatorius.
Setelah keluar dari nukleusnya akan berjalan ke dorsomedial lalu melingkari nukleus  nervus abdusen baru membelok ke ventrolateral untuk meninggalkan lateral pons. Disinilah nervus facialis akan bergabung dengan nervus intermedius. Nukleus salivatory nervus facialis akan mengeluarkan serabut saraf dan yang melalui  lobang akustikus meatus akan membentuk ganglion genikulatum. Dari ganglion ini melalui great petrosal nerve akan menuju ganglion pterigopalatina yang akan memberikan serabut parasimpatis sekretomotorik untuk kelenjar lakrimal. Tapi sebelum sampai di ganglion pterigopalatina, serabut saraf parasimpatis akan berjalan bersama dengan serabut saraf simpatis yang dibawa oleh deep petrosal nerve ( dari pleksus simpatis di arteri karotis interna) di sepanjang foramen lacerum. Keduanya lalu bersinaps dan oleh nervus vidian akan bergabung dengan nervus lakrimal yang selanjutnya akan menginervasi kelenjar lakrimal. Sebagai saraf motorik nervus facialis akan memberikan serabutnya untuk otot-otot wajah, otot stylohioid, digastrikus dan sisanya ke glandula parotis. Cabang temporalnya yang menuju intracranial akan mempersarafi otot frontalis dan m. orbicularis oculi bagian atas, dan cabang yang menuju zygomatikus akan mempersarafi m. orbicularis bagian bawah
Fungsi :
ü  Fungsi sensoris dari wajah, kornea, mulut, hidung, gigi, lidah, menings, sinus dan gendang telinga.
ü  Fungsi motoris untuk otot mengunyah.
ü  Fungsi sensoris dari  reseptor rasa  2/3 lidah dan langit-langit.
ü  Fungsi motoris dari otot-otot ekspresi wajah, otot stapedius dan otot-otot telinga tengah.
ü  Parasympatis untuk kelenjar saliva dan kelenjar lakrimal.
ü  Fungsi motoris untuk m.orbicularis oculi yang membuat mata berkedip dan muscle tone untuk menutup mata pada palpebra atas dan bawah.

Nervus vestibulocochlearis (NC.VIII)
nervus vestibulocochlearismemasuki batang otak tepat dibelakang nervus facialis (VII) pada suatu daerah berbentuk segitiga yang dibatasi oleh pons, flocculus dan medulla oblongata, keduanya kemudian terpisah dan mempunyai hubungan ke pusat yang berbeda. Nervus Vestibularis dan Cochlearis biasanya bersatu yang kemudian memasuki meatus acustikus internus, disebelah bawah akar motorik  nervusVII.

Nervus  Vestibularis
Nervus Vertibularis intinya terdiri dari 4 bagian yaitu medial, superior, inferior dan lateral. Nukleus ini terletak di bagian dorsal antara pons dan medulla sehingga menjadi bagian depan/dinding dari ventrikel IV. Pengetahuan mengenai nukleus vestibularis inferior masih sangat sedikit. Nukleus vestibularis lateral dan medial berperan dalam refleks labiryntine statis, sedangkan nukleus vestibularis medial dan superior berperan dalam refleks dinamis dan vestibuloocular. Pada daerah fundus dari meatus acustikus internus, bagian vestibuler dari N.vestibulocochlearis, meluas untuk membentuk ganglion vestibuler yang kemudian terbagi menjadi divisi dan superior clan inferior. Kedua divisi ini kemudian berhubungan dengan canalis semisirkularis.

Nervus Cochlearis
Nervus Cochlearis intinya dari dua bagian, yaitu ventral dan dorsal, letaknya disebelah lateral pedunkulus serebelli inferior. Tonjolan inti cochlearis pada dinding ventrikel IV disebut acoustic tubercle. Serabut dari N.Cochlearis akan berjalan ke cochlea dan membentuk ganglion spirale cochlea, serabutnya berakhir Pada sel-sel rambut organon corti di ductus cochlearis. Serabut dari nucleus vestibularis dan cochlearis berjalan ke ventrolateral dan keluar dari batang otak pada daerah pontomedularry junction bersama N. VII yang terletak disebelah medialnya, kemudian berjalan masuk ke os petrosus melalui meatus acustikus internus, jarak dari pontomedullari ke meatus acustikus internus 10 mm (6-15 mm). Di dalam meatus akustikus infernos nervus vestibularis berjalan di sebelah dorsal, Sedangkan nervus cochlearis berjalan di sebelah ventralnya. Di atasnya berjalan nervus intermedius (N VII) dan serabut motorik nervusVII. Perjalanan selanjutnya agak berputar sedikit, sehingga nervuscochlearis berada di sebelah bawah, diatasnya nervus vestibularis, sedangkan nervus facialis di sisi depannya dan nervus intermedius diantaranya.

Nervus glossopharyngeus (NC. IX)
Nervus glossopharingeus terdiri atas serabut motorik dan sensorik, dan terdistribusi sesuai dengan namanya, menuju lidah dan faring. Nervus ini merupakan nervus sensasi umum membran mukosa faring, faucium dan tonsila palatina, dan nervus pengecap sepertiga posterior ligah. Nervus ini terikat dalam tiga hingga empat filamen pada bagian superior medulla oblongata, pada sulcus di antara oliva dan pedunculus inferior.
Serabut sensorik berawal dari sel-sel ganglion superior dan ganglion petrosa, yang terletak pada batang saraf dan akan dijelaskan kemudian. Ketika diruntut hingga medulla, beberapa serabut sensorik, kemungkinan aferen simpatik. Beberapa serabutnya, kemungkinan serabut pengecap, membentuk kumparan yang disebut fasciculus solitarius, yang berjalan menuruni medulla oblongata. Serabut sensorik somatik, berjumlah beberapa, dikatakan berhubungan dengan tractus spinalis nervus trigeminus.
Serabut motorik somatik berasal dari sel-sel nucleus ambiguus, yang terletak dari permukaan fossa rhomboid pars lateral medulla spinalis dan berlanjut ke bawah sepanjang substansi grisea anterior medulla spinalis. Dari nucleus ini, serabut awalnya berjalan ke posterior, dan kemudian membelok ke anterior dan lateral bergabung dengan serabut sensorik. Nucleus ambiguous mempercabangkan menjadi rami motorik nervus glossopharingeus dan vagus, dan radiks cranialis nervus accesorius.
Serabut eferen simpatis yang berasal dari nucleus di bawah ala cinerea, nucleus dorsal, keduanya serabut motorik pre-ganglion dan serabut sekresi pre-ganglion sistem nervus simpatis. Serabut sekresi melewati ganglion oticum dan darinya neuron sekunder terdistribusi menuju glandula parotis. 
Dari medulla oblongata, nervus glossopharingeus berjalan lateral melewati flocculus, dan meninggalkan cranium menuju foramen jugulare, dalam selubung dura mater yang berbeda dengan nervus vagus dan accessories; sebelah lateral nervus vagus dan di sebelah anterior nervus accessories. Ketika keluar dari foramen jugulare, nervus ini berjalan diantara vena jugularis interna dan arteri carotis interna; di sebelah anterior arteri carotis interna dan di bawah processus styloideus dan musculus yang terhubung dengan processus tersebut ke arah margo inferior m. stylopharingeus. Nervus ini kemudian membelok ke anterior, membentuk arcus pada sisi leher dan berada di superior m. stylopharingeus dan m. constrictor pharingis medius. Nervus berjalan di bawah m. hyoglossus dan akhirnya terdistribusi pada tonsila palatine, membrane mukosa isthmus faucium, dasar mulut dan glandula mucus rongga mulut. Ketika melewati foramen jugulare, nervus membentuk dua ganglia, ganglion superior dan ganglion petrosa.
Ganglion superior (ganglion superius; jugular ganglion) terletak pada facies superior sulcus dimana nervus ini berpisah keluar melalui foramen jugulare. Nervus ini sangat kecil dan dianggap sebagai bagian dari ganglion petrosa.
Ganglion petrosa (inferior ganglion) lebih besar daripada ganglion superior dan terletak pada depresi yang ada pada margo inferior pars petrosa os temporale.

Nervus vagus (NC. X)
N. vagus meninggalkan dataran anterolateral bagian atas medulla oblongata pada alur antara oliva dan pedunculus cerebelli inferior.

Nervus accesorius (NC. XI)
Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis. Radiks kranial adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat neuron dari saraf vagus. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot trapezius, otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke atas.
Nervus hypoglossus (NC.XII)
Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada setiap sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan trigonum hipoglosus. Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi otot lidah yaitu otot stiloglosus, hipoglosus dan genioglosus.

Fungsi saraf cranial
v  olfactorius-untuk bau
v  Optik – penglihatan
v  Oculomotor - pergerakan bola mata, lensa.
v  Troklearis-gerakan otot oblik Superior mata
v  trigeminal-Innervates mata, pipi dan rahang daerah dan kontrol mengunyah
v  Abducens - bergerak ke luar mata.
v  facialis - kontrol otot wajah, kulit kepala, telinga; mengontrol kelenjar liur; menerima sensasi rasa dari dua-pertiga anterior lidah
v  vestibulocochlearis-pendengaran dan pemeliharaan keseimbangan
v  Glossopharingeus-sensasi rasa dari bagian belakang lidah dan tenggorokan
v  Vagus-Innervates dada dan organ-organ perut
v  Aksesori tulang belakang - gerakan kepala dan bahu
v  Hypoglossal - kontrol otot-otot lidah

2.    Saraf motorik
Terbagi atas dua jalan yaitu Systema Pyramidalis s.Tractus corticospinalis dan Systema Extrapyramidalis.
a.    Systema Pyramidalis : jalan motoric yang berasal dari area Broadmann 4 disamping area6,3,2,1 cortex cerebri menuju medulla spinalis. Bertolak dari tempat asal dan tujuannya, jalan motoric ini dikenal dengan sebutan Tractus Corticospinalis. Jalan motoric ini berasal dari sel pyramid (lapis ketiga) cortex cerebri khususnya dari area Broadmann 4dan pada medulla oblongata, jalan motoric ini menimbulkan benjolan di bagian depanmedulla oblongata yang disebut sebagai pyramid. Jalur ini berakhir pada cornu anterior medulla spinalis
Neuron orde pertama :
Jalannya :
Ø Dalam Hemispherum Cerebri : Corona Radiata
Ø Crus posterior capsulainterna(serabut yang dekat genu akan mensarafi bagian leher sedangkan serabut yangterletak leboh ke belakang akan mensarafi otot badan bawah)
Ø Dalam Mesencephalon : berjalan 3/5 tengah crus cerebri (bagian medialmensarafi bagian atas leher dan bagian lateral mensarafi otot kaki sebelahlateral.)
Ø Dalam Pons : akan terpecah menjadi beberapa berkas saraf oleh Fibra pontocerebellaris transversa.
Ø Dalam Medulla Oblongata : berkas saraf bergabung menjadi satu kembali danakan menonjolkan medulla oblongata membentuk piramida. Pada perbatasandengan medulla spinalis, sadarf akan mengalami dua hal yaitu mayoritas akan bersilangan membentuk deccusatio pyramidalis sedangkan yang lain yangtidak bersilangan akan memasuki medulla spinalis.
Ø Dalam medulla spinalis : serabut yang bersilangan akan memasuki columnalateralis substansia alba medulla spinalis yang disebut tractus corticospinalislateralis. Kemudian bersinaps dengan neuron kedua pada columna anterior.Serabut yang tidak bersilangan akan memasuki columna anterior substansiaalba medulla spinalis yang disebut tractus corticospinalis anteriordan akan berhenti pada neuron kedua. Lalu neuron orde kedua akan bersinaps denganneuron orde ketiga di columna anterior.

Fungsinya : bersama dengan tractus lain mengantarkan perintah untuk menggerakkan otot lurik.Fungsi khususnya adalah untuk jalan motoric yang berkaitan dengan ketepatan, keterampilanterutama gerakan ujung anggota badan

b.      Systema extrapyramidalis jalan motoric selain tractus corticospinalis.Yang datang dari batang otak menuju medulla spinalis
o  Tractus Reticulospinalis yang berfungsi untuk mengontrol neuron orde kedua danketiga dalam benruk fasilitasi atau inhibisi sehingga mampu mengontrol serat ototlintang dan reflex terkait. Asal neuron pertama yaitu kelompok neuron formationreticulare yang terletak sepanjang batang otak.
o   Tractus tectospinalis yang fungsinya berkaitan dengan pupillodilatasi sebagairespon terhadap kegelapan serta berhubungan dengan reflex gerakan tubuhsebagai respon terhadap rangsang penglihatan. Asal neuron pertamanya yaitucolliculus superior mesencephalon.
o   Tractus Rubrospinalis yang berfungsi memacu kontraksi otot flexor danmenghambat kontraksi anti gravitasi otot extensor. Asal neuron pertamanyaadalah nucleus ruber.
o   Tractus Vestibulospinalis yang berfungsi memacu kontraksi otot extensor daninhibisi otot flexor. Berhubungan dengan upaya mempertahankan keseimbangan.
o   euron orde pertama berasal dari nuclei vestibularis.
o   Tractus olivospinalis yang berfungsi mempengaruhi kontraksi otot serat lintang.
o  Neuron orde pertama berasal dari nucleus olivarius inferius.

Yang datang dari cerebri menuju otak :
v Tractus corticostriata yang berasal dari area broadmann 4s, 6,8,9 menuju kenucleus caudatus dan globus pallidus.
v  Tractus corticothalamicus
·      Berasal dari area Broadmann 10, 11, 12 menuju ke nucleus medialisthalami
·      Berasal dari area Broadmann 9 dan 11 menuju ke nuclei septi thalami
·      Berasal dari area Broadmann 9 menuju ke nuclei medialis dan lateralisthalami
·      Berasal dari area Broadmann 8 menuju ke nuclei medialis thalami
·      Berasal dari area Broadmann 6 menuju ke nuclei septi thalami, nucleimedialis dan lateralis thalami
·      Berasal dari area Broadmann 4 menuju ke nuclei lateralis thalami.
·       Tractus Corticohypothalamicus berasal dari cortex hippocampi menujuhypothalamus
·      Tractus Corticosubthalamicus berasal dari area Broadmann 6 menuju subthalamus
v Tractus Corticonigra berasal dari area Broadmann 4, 4s, 6 dan 8 menuju kesubstansia nigra.
v  Tractus yang berasal dari area Broadmann 4 dan 6 menuju tegmentum, nuclei pontis dan nuclei olivarius inferius.

3.    Saraf sensorik
Fungsi : Membawa sensorik (eksteroreseptif dan proprioreseptif) dari reseptor ke pusat sensorik sadar di otak. Informasi eksteroreseptif meliputi sakit, suhu, sentuhan dan tekanan sedangkaninformasi proprioreseptif meliputi keadaan otot sadar, keadaan sendi dan keadaan ligamentum.Tiga Stasiun Jalan sensorik :
a.     Neuron orde pertama à pada ganglion radix posterior s. ganglion spinale dimana dendritdari sel saraf tsb dating dari reseptor sedangkan axonnya pergi untuk bersinaps di orde kedua.
b.     Neuron orde kedua à pada cornu posteror medulla spinalis, axonnya dapat menyilanggaris tengah atau langsung berjalan dalam columna lateralis pada sisi yang sama,selanjutnya naik ke atas untuk bersinaps pada orde ketiga.
c.     Neuron Orde ketiga à pada thalamus dimana axonnya akan menuju pusat sensorik sadarpada gyrus post centralis (area Broadmann 3,2,1)

4.    Mikro
Neuron
Dendrit : menerima rangsang dr lingkungan, epitel sensoris atau dr neuron lain
Perikaryon/badan sel/soma : Pusat trofik sel, menerima rangsang dr neuron lain
Axon : Menghantarkan impuls saraf ke sel lain ( sel saraf, otot dan kelenjar)

Sel ganglion
Yang dimaksud dengan ganglion adalah kumpulan sel-sel saraf yang terdapat di luar sistem saraf pusat. Apabila kumpulan sel-sel saraf terdapat dalam sistem saraf pusat maka dinamakan Nukleus. Biasanya ganglion berbentuk ovoid kecil yang dibungkus oleh jaringan pengikat padat.
Ganglion intramural biasanya terdiri dari berapa sel saraf saja dan berada dalam alat-alat dalam, khususnya dinding saluran pencernaan. Semua ganglion intramural termasuk dalam sistem parasimpatik.
Berdasarkan struktur dan fungsinya dibedakan 2 jenis ganglion saraf : Ganglion kraniospinal, terdapat pada radix dorsalis N. spinalis dan N. cranialis, dan
Ganglion otonom, yang merukan bagian dari sistem saraf otonom.
Masing-masng badan sel ganglion atau badan sel saraf dikelilingi oleh selapis sel kuboid yang dinamakan sel kapsel setelit dan selapis tipis jaringan pengikat.
Ganglion kraniospinal mempunyai sel ganglion yang termasuk tipe pseudounipoler yang mempunyai tonjolan yang berbentuk huruf T. dua percabangan dari tonjolan tersebut disebut axon dan yang lainnya berfungsi sebagai dendrite. Walaupun berfungsi sebagai dendrit namun strukturnya adalah axon., karena diluar ganglion memiliki selubung mielin. Bagian dari ganglion lebih banyak sel-selnya dari pada di bagian tengah di mana lebih banyak serabut-serabut saraf. Pada sedian histologi, badan sel ganglion yang berbentuk pseudounipoler tampak gluber dengan inti terletak di tengah. Ganglion otonom biasanya berbentuk sebagai pembesaran pada serabut otonom. Beberapa dari ganglion otonom ini terdapat dalam dinding saluran pencernaan. Ukuran sel saraf dalam ganglion otonom hampir sama sekitar 20-45 mm mempunyai inti relatif besar sebagai gelembung yang terletak eksentrik. Secara faali ganglion otonom dibedakan dalam ganglion simpatik dan ganglion parasimpatik yang tidak dapat dibedakan secara makrofag
Neuroglia
·         Astrocytesa.  
(a)Protoplasmic astrocytes, ditemukan di substansi kelabu (SSP)
b. fibrous astrocytes, ditemukan di substansi putih (SSP)
Keduanya berfungsi : Memutar di sekitar saraf untuk menjaga jaringan dalam system saraf pusat,menghubungkan neurondengan pembuluh darah,dan membantu mengontrol aliran darah di otak
·   Olygodendrocytes
Mempunyai kesamaan dengan astrocytes namun mempunyai proses yang pendek dan sedikit.Fungsi: menyangga dengan membentuk barisan jaringan ikat semirigid di antara neuron di (SSP)dan memproduksi selubung myelin di sekitar akson neuron.
·         Mycroglia
Sel kecil yang merupakan derivate monosit, biasanya menetap namun bisa berpindah ketempat yang terluka,biasa disebut dengan brain macrophages. Fungsi: menyelubungi dan memusnahkan mikroba dan cellular debril,bisa bermigrasi kearea yang terluka dari saraf dan berfungsi sebagai makrofag kecil.
·         Ependymocytes
Sel epitel yang tersusun selapis dan teratur berbentuk pipih hingga columnar dan banyak yang bersilia.
f14-6_cellular_organiza_c.jpg
Ujung akhir saraf
Ujung – ujung tonjolan baik sebagai axon ataupun yang berfungsi sebagai dendrit tidak selalu berhubungan dengan saraf lain melainkan berakhir bebas ataupun berhubungan dengan jenis jaringan lain. Ujung-ujung saraf tersebut dapat mempunyai kemampuan menerima rangsangan dari lingkungannya atau membawa pesan dari saraf untuk lingkungan sebagai jawaban atas rangsangan yang datang. Apabila serabut saraf mampu membawa impuls dari ujung saraf penerima rangsangan menuju kearah pusat susunan saraf, maka serabut saraf demikian dinamakan : serabut saraf aferen. Sebaliknya apabila serabut saraf tersebut membawa impuls sebagai pesan dari pusat susunan saraf untuk akhiran saraf jenis kedua, maka serabut saraf demikian di namakan serabut saraf eferen
Badan vater paccini
Merupakan reseptor saraf sensoris berupa bangunan dengan bagian tengah berupa bintik yang merupakan serat saraf tak bermielin yang dikelilingi oleh beberapa lapisan lingkaran fibroblas yang tersusun konsentris.
Badan meissner
Merupakan reseptor saraf sensoris berupa bangunan berbentuk oval berpilin pada dermis kulit ujung jari tangan dan kaki, kulit telapak tangan dan kaki, merupakan ujung saraf sensoris tak bermielin yang bercabang dan kemudian cabang-cabang  itu dibungkus oleh sel schwann yang tersusun horizontal.
Muscle spindle
Merupakan reseptor saraf sensoris yang terdapat pada hampir semua muskular skelet, khusus banyak ditemukan pada muskular yang berhubungan dengan pergerakan halus seperti muskulus intrinsik tangan dan otot mata.
Motor end plate
merupakan efektor serat saraf motorik bagian dari motor unit, suatu bangunan yang dibentuk oleh ujung saraf motorik dan serat otot skelet yang dipersyarafinya.

          MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
1.    Saraf kranial
a.   Test nervus I (Olfactory)
Fungsi penciuman. Test pemeriksaan, klien tutup mata dan minta klien mencium benda yang baunya mudah dikenal seperti sabun, tembakau, kopi dan sebagainya. Bandingkan dengan hidung bagian kiri dan kanan.
b.   Test nervus II (opticus)
·      Fungsi aktifitas visual dan lapang pandang
·      Test aktifitas visual, tutup satu mata klien kemudian suruh baca dua baris di koran, ulangi untuk satunya.
·      Test lapang pandang, klien tutup mata kiri, pemeriksa di kanan, klien memandang hidung pemeriksa yang memegang pena warna cerah, gerakkan perlahan obyek tersebut, informasikan agar klien langsung memberitahu klien melihat benda tersebut, ulangi mata kedua.
c.   Test nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlear dan Abducens)
·         Fungsi koordinasi gerakan mata dan kontriksi pupil mata (N III).
·         Test N III (respon pupil terhadap cahaya), menyorotkan senter kedalam tiap pupil mulai menyinari dari arah belakang dari sisi klien dan sinari satu mata (jangan keduanya), perhatikan kontriksi pupil kena sinar.
·         Test N IV, kepala tegak lurus, letakkan obyek kurang lebih 60 cm sejajar mid line mata, gerakkan obyek kearah kanan. Observasi adanya deviasi bola mata, diplopia, nistagmus.
·         Test N VI, minta klien untuk melihat kearah kiri dan kanan tanpa menengok.
d.   Test nervus V (Trigeminus)
·         Fungsi sensasi, caranya : dengan mengusap pilihan kapas pada kelopak mata atas dan bawah.
·         Refleks kornea langsung maka gerakan mengedip ipsilateral.
·         Refleks kornea consensual maka gerakan mengedip kontralateral.
·         Usap pula dengan pilihan kapas pada maxilla dan mandibula dengan mata klien tertutup. Perhatikan apakah klien merasakan adanya sentuhan.
·         Fungsi motorik, caranya : klien disuruh mengunyah, pemeriksa melakukan palpasi pada otot temporal dan masseter.
e.   Test nervus VII (Facialis)
·         Fungsi sensasi, kaji sensasi rasa bagian anterior lidah, terhadap asam, manis, asin pahit. Klien tutup mata, usapkan larutan berasa dengan kapas/teteskan, klien tidak boleh menarik masuk lidahnya karena akan merangsang pula sisi yang sehat.
·         Otonom, lakrimasi dan salivasi
·         Fungsi motorik, kontrol ekspresi muka dengancara meminta klien untuk : tersenyum, mengerutkan dahi, menutup mata sementara pemeriksa berusaha membukanya
f.    Test nervus VIII (Acustikus)
Fungsi sensoris :
·         Cochlear (mengkaji pendengaran), tutup satu telinga klien, pemeriksa berbisik di satu telinga lain, atau menggesekkan jari bergantian kanan-kiri.
·         Vestibulator (mengkaji keseimbangan), klien diminta berjalan lurus, apakah dapat melakukan atau tidak.
g.   Test nervus IX (Glossopharingeal) dan nervus X (Vagus)
·         N IX, mempersarafi perasaan mengecap pada 1/3 posterior lidah, tapi bagian ini sulit di test demikian pula dengan M.Stylopharingeus. Bagian parasimpatik N IX mempersarafi M. Salivarius inferior.
·         N X, mempersarafi organ viseral dan thoracal, pergerakan ovula, palatum lunak, sensasi pharynx, tonsil dan palatum lunak.
·         Test : inspeksi gerakan ovula (saat klien menguapkan “ah”) apakah simetris dan tertarik keatas.
·         Refleks menelan : dengan cara menekan posterior dinding pharynx dengan tong spatel, akan terlihat klien seperti menelan.
h.   Test nervus XI (Accessorius)
·         Klien disuruh menoleh kesamping melawan tahanan. Apakah Sternocledomastodeus dapat terlihat ? apakah atropi ? kemudian palpasi kekuatannya.
·         Minta klien mengangkat bahu dan pemeriksa berusaha menahan —- test otot trapezius.
i.     Test Nervus XII (Hypoglosus)
·         Mengkaji gerakan lidah saat bicara dan menelan
·         Inspeksi posisi lidah (mormal, asimetris / deviasi)
·         Keluarkan lidah klien (oleh sendiri) dan memasukkan dengan cepat dan minta untuk menggerakkan ke kiri dan ke kanan.

2.    Saraf fisiologis
Dalam pemeriksaan refleks fisiologis ini, dimana ada beberapa tahap pemeriksaan refleks, yaitu:
a.      Refleks Kulit Perut (RKP) 
Pertama orang coba berbaring terlentang dengan kedua tangan terletak lurus disamping badan. Kemudian goreslah kulti daerah abdomen dari lateral kea rah umbilicus. Respon yang terjadi berupa kontraksi otot dinding perut.
b.       Knee Pess Refleks (KPR) 
Orang coba disuruh duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai akan tergantung bebas atau orang coba berbaring terlentang dengan fleksi tungkai pada sendi lutut. Kemudian ketuklah tendo patella dengan hummer atau palu perkusi sehingga terjadi ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps.
c.       Achilles Pess Refleks (APR) 
Tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan. Kemudian ketuklah tendo Achilles, sehingga terjadi plantar flexi dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius.
d.      Refleks Biseps (RB) 
Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi siku. Kemudian ketuklah pada tendo biseps akan menyebabkan fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps.
e.      Refleks Triseps (RT) 
Lengan bawah difleksikan pada sendi siku sedikit dipronasikan. Kemudian ketuklah pada tendo otot triseps 5 cm diatas siku akan menyebabkan ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps.
f.        Withdrawl Refleks (WR) 
Lengan orang coba diletakkan diatas meja dalam keadaan ekstensi. Tunggulah sampai orang coba tidak melihat saudara. Kemudian dengan hati – hati dan cepat tusuklah orang cobapada kulit tangannya dengan jarum suntik steril, atau jarum yang telah disediakan khusus, tusuk sehalus mungkin agar tidak meulaki orang coba. Respon berupa fleksi lengan tersebut menjauhi stimulus.

3.    Saraf motorik
Kekuatan kontraksi otot dapat diperiksa dengan cara :
a.    Gerakan aktif
Pasien diminta menggerakkan anggota geraknya dan pemeriksa menahan gerakan tersebut. Mis : pasien diminta memfleksikan lengan bawahnya dan pemeriksa berusaha menghalangi gerakan ini, dengan demikian dapat dinilai kekuatan otot biceps.
b.    Gerakan pasif
Pemeriksa menggerakkan anggota gerak pasien dan pasien diminta menahan anggota geraknya. Mis : pemeriksa mengekstensikan lengan bawah pasien dan pasien diminta menahan atau melawan usaha tersebut.

Nilai kekuatan kontraksi otot :
§  0 = lumpuh total, tidak dapat sedikitpun kontraksi otot
§  1 = terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada persendian yang harus digerakkan oleh otot tersebut
§  2 = didapatkan gerakan namun  gerakan tidak mampu melawan gaya berat (gravitasi)
§  3 = didapatkan gerakan dan mampu melawan gaya berat
§  4 = didapatkan mampu melawan gaya berat dan mengatasi sedikit tahanan yang diberikan
§  5 = tidak ada kelumpuhan kekuatan otot normal

4.    Saraf sensorik
a.    Sensasi taktil
Alat yang digunakan: (pilih salah satu)
o  Kuas halus
o  Kapas
o  Bulu
o  Tissue
o  Ujung jari tangan

Cara pelaksaan:
o  Ucapkan salam dan perkenalan
o  Menjelaskan apa yang akan dilakukan
o  Posisikan pasien dalam keadaan berbaring dan mata tertutup
o  Pasien dimohon santai dan jangan tegang
o  Daerah yang dirangsang harus bebas dari pakaian, bulu/rambut.
o  Sentuhkan alat pada daerah tertentu seringan mungkin.
o   Pasien dimohon untuk mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ terhadap yang dirasakan, mengatakan tempatnya dimana, dan lebih terasa yang kanan atau kiri.
o   Bandingkan bagian tubuh kiri dan kanan.

Kelainan sensasi taktil:
o  Anestesia, hipestesia, hiperestesia yang rancu digunakan untuk semua perubahan sensasi
o  Sensasi raba ringan negatif = tigmanestesia
o  Sensasi lokalisasi = trikoanestesia
o  Tidak mampu mengenal huruf yang ditulis pada kulit = grafanestesia

b.    Sensasi nyeri
Alat yang digunakan: Jarum

Cara pelaksanaan:
o  Ucapkan salam dan perkenalan
o  Menjelaskan apa yang akan dilakukan
o  Posisikan pasien dalam keadaan berbaring dan mata tertutup
o  Pasien dimohon santai dan jangan tegang
o  Daerah yang dirangsang harus bebas dari pakaian, bulu/rambut.
o   Pemeriksa harus lebih dulu mencoba jarum terhadap dirinya.
o   Sentuhkan alat pada daerah tertentu seringan mungkin.
o   Pasien dimohon untuk mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ terhadap yang dirasakan, mengatakan tempatnya dimana, dan lebih terasa yang kanan atau kiri.
o   Pasien dimohon membedakan 2 titik rangasangan ( normalnya, orang bisa ngebedain 2 titik yang jaraknya lebih dari 1 cm)
o   Bandingkan bagian tubuh kiri dan kanan.

Gangguan sensasi nyeri :
o  Alganestesia dan analgesia, untuk menunjukkan daerah yang tidak sensitif terhadap rangsang nyeri
o  Hipalgesia, sensitifitas yang menurun
o  Hiperalgesia, peningkatan sensitifitas

c.    Sensasi suhu
Alat yang digunakan: Tabung berisi air dingin(5-10’C) / panas(40-45’C)

Cara pelaksanaan:
o  Ucapkan salam dan perkenalan
o  Menjelaskan apa yang akan dilakukan
o  Posisikan pasien dalam keadaan berbaring dan mata tertutup
o  Pasien dimohon santai dan jangan tegang
o   Daerah yang dirangsang harus bebas dari pakaian, bulu/rambut.
o   Pemeriksa harus lebih dulu mencoba tabung dingin/panas terhadap dirinya.
o   Tempelkan tabung dingin/panas pada kulit pasien di daerah tertentu.
o   Pasien dimohon mengatakan apakah terasa dingin /panas.
o   Bandingkan bagian tubuh kanan dan kiri.

Kelainan pada sensasi suhu :
o  Perubahan sensibilitas suhu dikenal dengan termanestesia, termahipestesia dan termahipersetia baik terhadap rangsangan dingin ataupun panas
o  Apabila penderita dirangsang dingin dan panas, keduanya dijawab dengan hangat atau panas, disebut isotermognosia


MEMAHAMI DAN MENJELASKAN STROKE
1.    Definisi
Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang terjadi mendadak akibat pasokan darah ke suatu bagian otak sehingga peredaran darah ke otak terganggu. kurangnya aliran darah dan oksigen menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak sehingga menyebabkan kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, penurunan kesadaran.

2.    Klasifikasi
Klasifikasi menurut WHO :
a.    Berdasarkan perubahan patologis pada otak :
·      Perdarahan subarachnoid. Adanya darah didalam ruang subarachnoid akibat beberapa proses patologis. Penggunaan istilah medis umum SAH  merujuk kepada tipe perdarahan non-traumatik, biasanya berasal dari ruptur aneurisma Berry atau arteriovenous malformation (AVM)/malformasi arteriovenosa (MAV)
·      Perdarahan intraserebral.  Perdarahan intra serebral (PIS) adalah perdarahan yang primer berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma, hipertensi merupakan penyebab terbanyak.
·       Nekrosis ischemic serebral. Adanya perubahan aliran darah / penyumbatan, sehingga otak kekurangan aliran darah dan pasokan O2, sehingga terjadi nekrosis.
b.    Berdasarkan stadium klinik :
·      Transient Ischemic Attack ( TIA ). Gangguan fungsi otak akibat berkurangnya aliran darah ke otak untuk sementara waktu.
·      Stroke Ischemic Attack.  
·      Completed Stroke. Completed stroke adalah defisit neurologi fokal akut karena oklusi atau gangguan peredaran darah otak yang secara cepat menjadi stabil tanpa memburuk lagi.
·      Reversible Iskhemik Neurologikal Defisit ( RIND ). Defisit neurologik fokal akut yang timbul karena iskemia otak berlangsung lebih dari 24 jam dan menghilang tanpa sisa dalam waktu 1-3 minggu

Kalsifikasi berdasarkan penyebabnya :
a.    Stroke non haemorrhagic
Merupakan suatu keadaan defisit neurologis akibat kekurangan O2, pada awalnya mungkin akibat iskhemia umum atau hipertensi karena proses anemia atau kesukaran bernafas.
Jenis-jenis stroke non haemorhagic adalah :
v  Iskhemia Serebri
§  TIA/serangan iskhemik sepintas. Yaitu stroke yang pulih sempurna gejalanya dalam waktu 24 jam.
§   RIND ( Reversible Ischemic Neurologic Deficit ). Yaitu stroke yang sembuh sempurna dalam waktu lebih dari 24 jam.
v  Trombosis Serebri
Adalah penyumbatan pada pembuluh darah otak , kebanyakan pembuluh darah arterial dengan akibat melunaknya jaringan otak.
v  Emboli Serebri
Adalah bekuan darah atau sumbatan lain yang dibawa mengalir oleh darah sampai kepembuluh darah otak dengan sumber embolus utama biasanya dari jantung.
b.    Stroke Haemorrhagic
Adalah sesuatu keadaan defisit neurologis akibat faktor pencetus yang biasanya adalah hipertensi, abnormalitas vaskuler.
Stroke Haemorrhagic ini terbagi menjadi 2 :
v  Apopleksia sanguinea serebri
v  Perdarahan subarakhnoidal.

3.    Etiologi
Faktor resiko :
§  usia → insidensi stroke sebanding dgn meningkatnya usia → di atas umur 55 th, insidensinya meningkat 2 kali lipat
§  hipertensi → ada hubungan langsung antara tingginya tekanan darah dengan resiko terjadinya stroke
§  jenis kelamin → insidensi pada pria 19% lebih tinggi drpd wanita
§  TIA (transient ischemic attack)→ 60% kasus stroke iskemi didahului dengan TIA → makin sering terjadi, makin besar resiko terjadinya stroke.
§  Diabetes militus
§  Faktor keturunan
§  Penyakit jantung
§  Merokok

Penyebab :
Stroke hemoragik à disebabkan oleh kenaikan tekanan darah yang akut atau penyakit lain yang menyebabkan melemahnya pembuluh darah
Stroke iskemik à disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah akibat adanya emboli, ateroskelosis, atau oklusi trombotik pada pembuluh darah otak
4.    Patofisiologi
Otak merupakan organ tubuh yang sensitif terhadap oksigen dan nutrisi. Otak harus menerima aliran darah yang konstans untuk mempertahankan fungsi normalnya karena otak tidak dapat menyimpan oksigen dan glukosa sendiri. Aliran darah berfungsi sebagai tempat untuk membuang sampah metabolik, karbondioksida dan asam laktat. Jika aliran darah keotak berkurang ataupun menurun maka akan mengakibatkan kerusakan otak dengan cepat. 
Pada stroke, iskemik terjadi dalam jaringan otak yang aliran darah arterinya terganggu akibat trombus atau emboli sehingga menimbulkan gangguan fungsi otak. Iskemik dapat menyebabkan hipoksia atau anoksia dan hipoglikemik pada jaringan otak. Proses ini dapat mengakibatkan kematian pada neuron, sel ganglia dan struktur otak disekitar area infark. Edema yang terjadi akan memperberat infark itu sendiri. Edema dapat berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa hari. Setelah terjadinya infark dan edema, maka secara otomatis akan terjadi penurunan kemampuan fungsi otak dalam menjalankan fungsi neurologisnya seperti semula. Hal ini mengakibatkan terjadinya defisit neurologis pada area kontralateral dari area lesi otak yang terkena, sesuai dengan karakteristik dari otak. 

Stroke iskhemik
Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak.
 Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.

Stroke hemoragik
Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian.
 Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYDtG7ONvylTLO1k9-KzHr0Bgg0VZyY2iZFdAt4HwCo58hzXYbGKgYlrhnGQ1MVC46uOTkttzUg5XJe7yxRzyiOuC23CjdAyS8KSfbZzsjNxLrcFAc55wZ7OPrY_f-jEDfOoh1Y6A8F_Dm/s1600/stroke+path.jpg
5.    Manifestasi klinis
Gejala atau tanda adanya stroke  menurut Corwin (2001) antara lain:
v Daerah otak yang mengalami iskemia menentukan gejala atau tanda yang muncul. Kemampuan mental, emosi, kemampuan bicara atau gerakan dapat terpengaruh. Banyak kelainan yang bersifat irreversibel.
v  Stroke hemoragik sering disertai oleh nyeri kepala hebat dan hilangnya kesadaran.

Lebih lanjut Arif Mansjoer, dkk (2000) menjelaskan bahwa:
ü Pada stroke non hemoragik (iskemik) gejala utamanya adalah timbulnya defisit neurologist secara mendadak/ subakut, didahului gejala prodromal, terjadi pada waktu istirahat atau bangun pagi dan kesadaran biasanya tidak menurun, kecuali bila embolus cukup besar, biasanya terjadi pada usia >50 tahun. Menurut WHO, dalam International Statistical Classification of Disease and related Health Problem 10th revision, stroke hemorragik dibagi atas:
Perdarahan intraserebral (PIS)
Perdarahan subaraknoid (PSA)
ü Stroke akibat PIS mempunyai gejala prodromal yang tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi. Serangan seringkali siang hari, saat aktivitas, atau emosi/ marah. Sifat nyeri kepalanya hebat sekali. Mual dan muntah sering terdapat pada permulaan serangan . Hemiparesis/ hemiplagia biasa terjadi  sejak permulaan serangan. Kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma (655 terjadi kurang dari ½ jam, 23% antara ½ sampai 2 jam, dan 12% trjadi setelah 2 jam sampai 19 hari).
ü  Pada pasien dengan PSA didapatkan gejala prodromal berupa nyeri kepala hebat dan akut, serta muntah. Kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi.. ada gejala atau trend rangsangan aneurisma pada a. komunikans anterior atau a. karotis interna.
ü  Gejala neurologis yang timbul tergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darahdan lokasinya. Manifestasi klinis stroke akut dapat berupa:
a.      Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparesis) yang timbul mendadak
b.      Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan (gangguan hemisensorik)
c.       Perubahan mendadak status mental (konfusi, delirium, letargi, strupor, atau koma)
d.     Afasia (bicara tidak lancer, kurangnya ucapan, atau kesulitan memahami ucapan)
e.      Disartria (bicara pelo atau cedal)
f.        Gangguan penglihatan (hemianopia atau monokuler) atau diplopia
g.      Ataksia (trunkal atau anggita badan)
h.      Vertigo, mual dan muntah, atau nyeri kepala

6.    Diagnosis
Pada diagnosis penyakit serebrovaskular, maka tindakan arteriografi adalah esensial untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. CT Scan dan MRI merupakan sarana diagnostik yang berharga untuk menunjukan adanya hematoma, infark atau perdarahan. EEG dapat membantu dalam menentukan lokasi.

Diagnosis banding : Diagnosis banding penyebab stroke non haemoragik, yaitu thrombosis dan emboli menurut Chusid (1993) yaitu onset yang relatif lambat menyokong diagnosa thrombosis. Sedang endocarditis infeksiosa, fibrilasi atrium dan infark myocard menyokong diagnosa emboli. Ada beberapa penyakit yang memiliki tanda dan gejala yang menyerupai stroke, misalnya trauma kepala, tumor intracranial, meningitis atau virus. Untuk menegakkan diagnosis tersebut diperlukan pemeriksaan yang lebih spesifik misalnya: Coputerized Tomography Scanning (CT Scan), Magnetic Resonace Imaging (MRI), Possitron Emesion Tomograph Scanning (PET Scan) dan pemeriksaan penunjang laboratorium.

7.    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan stroke menurut Corwin (2001) adalah sebagai berikut:
a.    Stroke embolik dapat diterapi dengan antikoagulan.
b.      Stroke hemoragik dapat diobati dengan penekanan dan penghentian perdarahan dan pencegahan kekambuhan. Mungkin diperlukan tindakan bedah.
c.      Semua stroke diterapi dengan tirah baring dan penurunan rangsang eksternal untuk pengurangan kebutuhan oksigen serebrum. Dapat dilakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan tekanan dan edema intrakranium.

Lebih lanjut  J. Misbach dan H. Kalim (2007) menjabarkan penanganan stroke sebagai berikut:
a.   Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.
b.   Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.
c.    Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.
d.   Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.
e.   Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan.
f.     Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.
g.    Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan).
h.   Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis

8.    Komplikasi
Individu yang menderita stroke berat pada bagian otak yang mengontrol respons pernapasan atau kardiovaskular apat meninggal (Corwin, 2001).

9.    Pencegahan
Primer : mengendalikan faktor resiko, gizi seimbang, dan olah raga teratur
Sekunder : mengendalikan faktor resiko, medikamentosa, dan tindakan invasif bila perlu.

10.    Prognosis
Menurut Chusid (1993) prognosis thrombosis cerebri ditentukan oleh lokasi dan luasnya infark, juga keadaan umum pasien. Umumnya makin lambat penyembuhannya, maka semakin buruk prognosisnya. Pada emboli cerebri, prognosis ditentukan juga dengan adanya emboli dalam organ-organ yang lain. Bila pasien dapat mengatasi serangan yang akut, prognosis kehidupannya baik. Dengan rehabilitasi yang aktif, banyak penderita dapat berjalan lagi dan mengurus dirinya.


KEWAJIBAN SUAMI ISTRI DALAM PANDANGAN ISLAM
Hak dan kewajiban suami isteri  terbagi menjadi 3 yaitu:
1.      Hak bersama suami isteri, yang meliputi:
-     Halal saling bergaul dan mengadakan hubungan kenikmatan seksual
-     Haram melakukan perkawinan yang masih ada hubungan darah yang sangat dekat
-     Hak saling mendapat waris akibat dari perkawinan nya yang sah
-     Sahnya menasabkan anak kepada suami yang jadi teman setempat tidur.
-     Berlaku dengan baik
2.      Hak isteri terhadap suaminya
-    Hak atas kebendaan yang meliputi mahar (maskawin), barang bawaan, belanja (nafkah).
-    Hak yang bukan kebendaan meliputi hak untuk diperlakukan dengan baik, menjaganya dengan baik, suami mendatangi istrinya, berseggama di tempat yang tertutup, membaca doa ketika bersenggama, diharamkan membicarakan masalah persenggamaan, ‘azl dan pembatasan kelahiran.
3.      Hak suami
-    Tidak memasukkan laki-laki lain kerumah nya
-     Bakti isteri terhadap suaminya
-     Menempatkan  isteri di rumah suami
-     Menghukum isteri karena menyeleweng
-     Isteri berhias untuk suaminya





























Tidak ada komentar: