STROKE
MEMAHAMI DAN
MENJELASKAN ANATOMI DAN FISIOLOGI MAKRO-MIKRO
1. Saraf cranialis
Nervus olfaktorius (NC. I)
Jalan
: menembus lubang-lubang lamina cribrosa ossis ethmoidalis menuju bulbus
olfactorius yang terletak tepat diatas lamina cribosa. Oleh karena
n.olfaktorius tdd banyak saraf maka disebut sebagai fila olfactorius.
Tractus
olfactorius a/ berkas serabut saraf yang jalan dari bagiam belakang bulbus
olfactorius di bawah lobus frontalis
Tractus
olfactorius dibentuk oleh axon sel mitra dan tufted cell.
N.olfactorius
tidak melewati thalamus.
Dari
cortex olfactorius primarius selalu dikirimkan serabut penghubung ke berbagai nuclei didalam otak,
sehingga penciuman merupakan sensasi yang tidak bisa dipisahkan dari respon
emosional dan sistem saraf otonomnya.
Nervus opticus (NC. II)
Receptor : sel ganglion pada retina
Jalan : axon dari sel ganglion retina
menuju discus opticus kemudian keluar dari bola mata kira-kira 3-4 mm pada sisi
nasalis dari pusat bola mata. Axon sel ganglion membentuk n.opticus yang keluar
dari orbita membentuk chiasma opticus. Dari chiasma opticus terbentuk tractus
opticus. Tractus opticus jalan ke posterolateral mengelilingi pedunculus
cerebri, untuk bersinaps dengan saraf yang terdapat pada corpus geniculatum
laterale. Sebagian kecil tractus opticus jalan menuju nucleus pretectum dan
colliculus superior yang berfungsi dalam refleks sinar.
Pusat : corpus geniculatum laterale.
Fungsi : Nervus
optik merupakan saraf somatik spesial afferen yang artinya spesial sensoris yang
serabut sarafnya hanya di ada di intrakranial dan tidak ada di batang otak dan
spesial sense ( hearing, vision, balance dan smell ). Sel fotoreseptor pada retina menjadi
reseptor dalam menerima informasi visual. Informasi visual berupa cahaya yang
akan diubah menjadi impuls saraf yang akan dihantarkan oleh nervus optik sampai
ke korteks penglihatan kita sehingga akhirnya kita dapat melihat suatu objek. (
secara detail dibahas di sari pustaka lintas penglihatan )
Nervus occulomotorius (NC.III)
Nervus
okulomotor dalam perjalanannya akan melalui daerah-daerah sebagai
berikut :
- Bagian
intraparenkim di mid brain. Serabut saraf berjalan dari nukleusnya di daerah
dorsal tegmentum midbrain, melewati red nukleus dan menuju
ventral keluar ke mid brain pada bagian medial dari pedunkulus serebri di
colliculus superior.
- Bagian subarachnoid. Setelah keluar dari bagian ventral dari
mesencephalon selanjutnya akan memasuki ruang subarachnoid di depan
midbrain pada fossa interpedunkular, dan lewat diantara arteri cerebellaris
superior dan arteri cerebralis posterior dan di proksimal dari arteri
komunikans posterior.
- Bagian sinus cavernosus. Sebelum memasuki sinus cavernosus nervus
okulomotor akan menembus duramater di dekat prosesus klinoideus posterior dan
selanjutnya akan memasuki sinus cavernousus yang juga berisi nervus
trokhlearis, nervus abdusen, nervus trigeminus dan arteri karotis interna.
Nervus III akan berjalan di dinding lateral atas dari sinus cavernus
superior, tepat dibawah ligamentum petroclinoid.
- Bagian Orbita. Nervus III akan memasuki ruang orbita melalui
fissura orbitalis superior, dan akan membagi diri menjadi 2 cabang besar
yaitu cabang superior dan inferior.
Setelah keluar
dari fissura orbitalis superior, selanjutnya nervus okulomotor akan
mempercabangkan dirinya menjadi dua divisi besar yaitu :
- divisi superior
yang akan menginervasi m.levator palpebra dan m.rektus
superior,
- divisi inferior
akan menginervasi m. rektus medial, m. rektus inferior dan m.obliqus inferior.
Cabang dari
obliqus inferior selanjutnya akan mempercabangkan serabut
parasimpatis preganglion dari nukleus Edinger westphal yang akan menginervasi
m.spinkter pupil dan otot-otot siliaris.
Fungsinya ada
2 yaitu :
·
General Somatik efferen (
motoris) dimana serabut sarafnya yang berasal dari nukleus
motorik akan menginervasi 5 otot ekstra okuler , yaitu :
M.
Rectus superior untuk pergerakan mata keatas
M.
Rectus medial untuk pergerakan ke medial
M.
Rectus inferior untuk pergerakan mata kebawah
M.
Obliqus Superior untuk pergerakan mata ke atas dan ke medial
M
Levator palpebra untuk pergerakan bola mata keatas
·
General Visceral Efferen yaitu
serabut nervus okulomotor preganglionik para simpatis yang berasal
dari nukleus Edinger Westphal akan menginervasi otot spinkter pupil
yang akan mengkonstriksikan pupil dan muskulus siliaris yang akan mengatur
akomodasi.
Nervus trochlearis (NC.IV)
Nervus
trochlearis sangat unik karena serabut sarafnya yang berjalan ke dorsal akan
menyilang garis tengah sebelum keluar ke brainstem, akibatnya lesi setinggi
nukleus akan bersifat kontralateral sedangkan pada nervusnya akan ipsilateral.
Serabut
sarafnya setelah meninggalkan nukleusnya akan memutar ke caudal mesencephalon
di periaquaductal grey. Selanjutnya ke medial kembali untuk menyilang garis
tengah dan akhirnya akan keluar ke permukaan dorsal (bukannya ventral) antara
pons dan midbrain junction.
Selanjutnya
akan memasuki ruang subarachnoid dimana akan berjalan antara arteri serebralis
posterior dan arteri serebellaris superior.
Setelah
menembus duramater akan memasuki sinus cavernosus di dinding lateralnya, dimana
akan bergabung bersama N. III , N.VI, a.karotis interna dan N.
V. Nervus trokhlear akanberada di bawah nervus III dan diatas dari
cabang opthalmik dari nervus V. Akhirnya akan memasuki fissura orbitalis superior
tapi diluar dari annulus Zinn lalu berjalan diatasnya dan akhirnya akan
menginervasi m.obliqus superior.
Fungsi : Nervus trokhlearis berfungsi sebagai general
somatik efferent (motorik) yang akan menginervasi m.oblique superior yang
membuat bola mata bergerak ke bawah dan ke lateral.
Nrvus trigeminus
(NC.V)
Nervus
trigeminus setelah keluar dari nukleusnya di sepanjang mesencephalon, pons
sampai ke medula oblongata, serabut-serabutnya akan bergabung membentuk
ganglion Gasseri / Semilunar di daerah Meckel Cave yang
selanjutnya akan memasuki ruang subarachnoid. Setelah dari ruang subarachnoid
akan menembus duramater dan memasuki ruang sinus cavernosus yaitu
cabang opthalmik dan cabang maksilaris.
Di ruang
sinus cavernosus akan berada di nervus ini akan berada di bagian inferior pada
sinus cavernosus posterior, tapi setelah di bagian anterior, nervus ini akan
berada di superior sebelum akhinya cabang opthalmik ( V1 ) akan
memasuki fissura orbitalis superior yang selanjutnya akan memasuki rongga
orbita yang akan menuju ke kulit dahi dan puncak kepala. Sedangkan cabang
maksilaris akan memasuki cranium melalui foramen rotundum. Serabut saraf
sensorisnya akan mencapai fossa pterigopalatina melalui fissura orbitalis
inferior ( wajah, dagu dan gi gi atas ) dan melalui kanalis pterigopalatina (
langit-langit, mukosa hidung dan farings). Cabang mandibularis akan memasuki
foramen ovale dan akan menginervasi lidah, gigi bawah, dan kulit rahang bawah.
Percabangan :
·
Nervus Opthalmicus ( V1)
Saraf ini
merupakan cabang pertama bersifat sensoris yang pempersarafi glandula
lacrimalis, conjuntiva, mukosa cavum nasi, kulit hidung, palpebra, dahi
dan kulit kepala. Membentang ke ventral di dinding sinus lateral cavernosus
dibawah n.okulamotorius dan nervus trokhlearis. Menerima serabut simpatis dari
pleksus karotikus internus , sebelum memasuki fissura orbitaris superior.
Selanjutnya bercabang menjadi :
a.
N .Lakrimalis
cabang
terkecil memasuki orbita melalui tepi lateral fissura
orbitalis superior, membentang pada tepi atas m.rectus lateralis
bersama-sama a.lakrimalis. Menerima r.zygomatikus n.maksilaris mengandung
serabut sekretori untuk glandula lakrimalis.
b.
N .Frontalis
memasuki rongga
orbita melalui bagian superior fissura orbitalis
superior terletak diatas otot dan membentang diantara m.levator
palpebra superior dan peiosteum. Pada pertengahan orbita bercabang dua menjadi
n.supratroclearis dan n.supraorbitalis.
c.
N.nasosiliaris; masuk orbita melalui
bagian medial fissura orbitalis superior, menyilang n.optikus menuju dinding
medial orbita dan selanjutnya sebagai n.ethmoidalis anterior, masuk kedalam
cavum cranii melalui foramen ethmoidalis anterior, berjalan diatas lamina
kribosa dan turun ke cavum nasi melalui celah disisi crista gali.
N.nasosiliaris menerima r.komunikan ganglion siliaris dan mempercabangkan
n.siliaris longus, n. siliaris brevis, n.infratrochlearis
dan n.ethmoidalis posterior
·
Nervus Maksilaris
Dari ganglion
trigeminal divisi ini berjalan kedepan pada dinding lateral sinus cavernosus
dibawah N.VI, dan meninggalkan fossa crani melalui foramen rotundum dan
memasuki bagian superior dari fossa pterygopalatina.
Sesudah
memutari sisi lateral processus orbitalis dari os platina, memasuki orbital
melalui fissura orbitalis inferior. Berjalan kedepan pada sulcus infraorbitali
pada orbital floor dan berubah nama menjadi n.infraobita. Selanjutnya memasuki
canalis dan keluar pada pipi melalui foramen infraorbitalis untuk mempersarafi
kulit palpebra inferior, kulit sisi hidung dan pipi, bibir atas dan mucosa
bibir atas dan pipi.
·
Nervus mandibularis
Divisi ini
merupakan divisi yang terbesar. Divisi ini tidak menginervasi orbita.
Fungsi nervus
trigeminus :
Cabang opthalmik adalah general somatik
afferent /sensoris ( tactile, proprioceptif, dan nosiseptif ), dimana :
- cabang
frontal akan mempercabangkan nervus supratrokhlearis yang akan
membawa
rangsang sensoris untuk konjungtiva dan kelopak mata atas dan
kulit
dahi bagian bawah serta nervus supraorbitalis yang akan mensuplai
palpebra
inferior , konjungtiva dan sebagian kulit dahi.
- cabang
lakrimal akan membawa rangsang sensoris dari kelenjar lakrimal
melalui
post ganglion pterigopalatina, serta konjungtiva dan kulit sekitar
sudut mata
bagian lateral.
- Cabang
nasosiliaris akan mempercabangkan :
@ infratrokhlearis
yang akan menginervasi untuk sistem drainase lakrimal,
konjungtiva
dan kulit sekitar kantus medial.
@ nervus
siliaris longus akan membawa serabut sensoris dari badan siliar,
iris
dan kornea dan membawa serabut saraf simpatis ke otot
dilatator
pupil,
@ nervus
siliaris brevis akan membawa serabut saraf parasimpatis yang
menginervasi otot
konstriktor pupil dan m siliaris , serta akan membawa
serabut
simpatis yang akan menginervasi otot dilatator pupil dan
m.Tarsalis
superior.
Cabang
maksillaris adalah serabut general somatik afferent/sensoris untuk kelopak mata
inferior, bibir atas, gusi dan gigi bagian atas, dagu, hidung, dan
sebagian farings serta sinus frontal, ethmoid dan maxillaris.
Cabang mandibular adalah sensoris untuk gusi
bawah, gigi, bibir bawah sedangkan motoris untuk lidah
, langit-langit dan otot-otot mengunyah.
Nervus abducens (N.VI)
Nukleus nervus
abdusen berada di medial dari nukleus nervus facialis di pons,
serabut saraf nervus abdusen akan berjalan keatas dan kedepan di
dalam pons dan akhirnya keluar di perbatasan bagian bawah pons dan
bagian atas medulla oblongata.
Serabut saraf
selanjutnya memasuki ruang subarachnoid dan akan menembus duramater
pada dorsum sella dari tulang sphenoid, berjalan terus dibawah prosessus
clinoid superior dan memasuki sinus cavernosus pada sisi lateral dari arteri
karotis interna, dimana nervus okulomotor, nervus trokhlearis dan nervus
opthalmikus berada di sisi lateral dari sinus cavernosus. Selanjutnya akan
memasuki orbita melalui fissura orbitalis superior dibawah vena
oftalmika . Akhirnya berjalan diantara 2 caput m.rektus lateral dan akan menginervasi
muskulus tersebut.
Fungsi : Sebagai General
Somatik Efferent ( motorik ) dengan menginervasi otot m.rektus lateral yang
membuat bola mata bergerak ke arah lateral.
Nervus facialis (NC.VII)
Nervus facialis
adalah campuran serabut sensoris dan motoris. Nervus ini akan berjalan ke
ventral midbrain setelah keluar dari nukleusnya di pons. Disebut nervus
sekretomotorik karena dalam perjalanannya akan bergabung dengan nervus
intermedius yang merupakan nervus sekretomotorik untuk kelenjar salivatorius.
Setelah keluar
dari nukleusnya akan berjalan ke dorsomedial lalu melingkari
nukleus nervus abdusen baru membelok ke ventrolateral untuk
meninggalkan lateral pons. Disinilah nervus facialis akan bergabung dengan
nervus intermedius. Nukleus salivatory nervus facialis akan mengeluarkan
serabut saraf dan yang melalui lobang akustikus meatus akan
membentuk ganglion genikulatum. Dari ganglion ini melalui great petrosal nerve
akan menuju ganglion pterigopalatina yang akan memberikan serabut parasimpatis
sekretomotorik untuk kelenjar lakrimal. Tapi sebelum sampai di ganglion
pterigopalatina, serabut saraf parasimpatis akan berjalan bersama dengan
serabut saraf simpatis yang dibawa oleh deep petrosal nerve ( dari pleksus
simpatis di arteri karotis interna) di sepanjang foramen lacerum. Keduanya lalu
bersinaps dan oleh nervus vidian akan bergabung dengan nervus lakrimal yang
selanjutnya akan menginervasi kelenjar lakrimal. Sebagai saraf motorik nervus
facialis akan memberikan serabutnya untuk otot-otot wajah, otot stylohioid,
digastrikus dan sisanya ke glandula parotis. Cabang temporalnya yang menuju
intracranial akan mempersarafi otot frontalis dan m. orbicularis oculi bagian
atas, dan cabang yang menuju zygomatikus akan mempersarafi m. orbicularis
bagian bawah
Fungsi :
ü Fungsi sensoris
dari wajah, kornea, mulut, hidung, gigi, lidah, menings, sinus dan gendang
telinga.
ü Fungsi motoris
untuk otot mengunyah.
ü Fungsi sensoris
dari reseptor rasa 2/3 lidah dan langit-langit.
ü Fungsi motoris
dari otot-otot ekspresi wajah, otot stapedius dan otot-otot telinga tengah.
ü Parasympatis
untuk kelenjar saliva dan kelenjar lakrimal.
ü Fungsi motoris
untuk m.orbicularis oculi yang membuat mata berkedip dan muscle tone untuk
menutup mata pada palpebra atas dan bawah.
Nervus vestibulocochlearis
(NC.VIII)
nervus vestibulocochlearismemasuki batang otak tepat
dibelakang nervus facialis (VII) pada suatu daerah berbentuk segitiga yang
dibatasi oleh pons, flocculus dan medulla oblongata, keduanya kemudian terpisah
dan mempunyai hubungan ke pusat yang berbeda. Nervus Vestibularis dan
Cochlearis biasanya bersatu yang kemudian memasuki meatus acustikus internus,
disebelah bawah akar motorik nervusVII.
Nervus Vestibularis
Nervus Vertibularis
intinya terdiri dari 4 bagian yaitu medial, superior, inferior dan lateral.
Nukleus ini terletak di bagian dorsal antara pons dan medulla sehingga menjadi
bagian depan/dinding dari ventrikel IV. Pengetahuan mengenai nukleus vestibularis
inferior masih sangat sedikit. Nukleus vestibularis lateral dan medial berperan
dalam refleks labiryntine statis, sedangkan nukleus vestibularis medial dan superior
berperan dalam refleks dinamis dan vestibuloocular. Pada daerah fundus dari
meatus acustikus internus, bagian vestibuler dari N.vestibulocochlearis, meluas
untuk membentuk ganglion vestibuler yang kemudian terbagi menjadi divisi dan
superior clan inferior. Kedua divisi ini kemudian berhubungan dengan canalis
semisirkularis.
Nervus Cochlearis
Nervus
Cochlearis intinya dari dua bagian, yaitu ventral dan dorsal, letaknya disebelah
lateral pedunkulus serebelli inferior. Tonjolan inti cochlearis pada dinding ventrikel
IV disebut acoustic tubercle. Serabut dari N.Cochlearis akan berjalan ke cochlea
dan membentuk ganglion spirale cochlea, serabutnya berakhir Pada sel-sel rambut
organon corti di ductus cochlearis. Serabut dari nucleus vestibularis dan
cochlearis berjalan ke ventrolateral dan keluar dari batang otak pada daerah
pontomedularry junction bersama N. VII yang terletak disebelah medialnya,
kemudian berjalan masuk ke os petrosus melalui meatus acustikus internus, jarak
dari pontomedullari ke meatus acustikus internus 10 mm (6-15 mm). Di dalam
meatus akustikus infernos nervus vestibularis berjalan di sebelah dorsal, Sedangkan
nervus cochlearis berjalan di sebelah ventralnya. Di atasnya berjalan
nervus intermedius (N VII) dan serabut motorik nervusVII. Perjalanan
selanjutnya agak berputar sedikit, sehingga nervuscochlearis berada di sebelah
bawah, diatasnya nervus vestibularis, sedangkan nervus facialis di sisi
depannya dan nervus intermedius diantaranya.
Nervus glossopharyngeus (NC. IX)
Nervus
glossopharingeus terdiri atas serabut motorik dan sensorik, dan terdistribusi
sesuai dengan namanya, menuju lidah dan faring. Nervus ini merupakan nervus
sensasi umum membran mukosa faring, faucium dan tonsila palatina, dan nervus
pengecap sepertiga posterior ligah. Nervus ini terikat dalam tiga hingga empat
filamen pada bagian superior medulla oblongata, pada sulcus di antara oliva dan
pedunculus inferior.
Serabut sensorik berawal dari sel-sel ganglion superior dan ganglion petrosa, yang terletak pada batang saraf dan akan dijelaskan kemudian. Ketika diruntut hingga medulla, beberapa serabut sensorik, kemungkinan aferen simpatik. Beberapa serabutnya, kemungkinan serabut pengecap, membentuk kumparan yang disebut fasciculus solitarius, yang berjalan menuruni medulla oblongata. Serabut sensorik somatik, berjumlah beberapa, dikatakan berhubungan dengan tractus spinalis nervus trigeminus.
Serabut sensorik berawal dari sel-sel ganglion superior dan ganglion petrosa, yang terletak pada batang saraf dan akan dijelaskan kemudian. Ketika diruntut hingga medulla, beberapa serabut sensorik, kemungkinan aferen simpatik. Beberapa serabutnya, kemungkinan serabut pengecap, membentuk kumparan yang disebut fasciculus solitarius, yang berjalan menuruni medulla oblongata. Serabut sensorik somatik, berjumlah beberapa, dikatakan berhubungan dengan tractus spinalis nervus trigeminus.
Serabut motorik
somatik berasal dari sel-sel nucleus ambiguus, yang terletak dari permukaan
fossa rhomboid pars lateral medulla spinalis dan berlanjut ke bawah sepanjang
substansi grisea anterior medulla spinalis. Dari nucleus ini, serabut awalnya
berjalan ke posterior, dan kemudian membelok ke anterior dan lateral bergabung
dengan serabut sensorik. Nucleus ambiguous mempercabangkan menjadi rami motorik
nervus glossopharingeus dan vagus, dan radiks cranialis nervus accesorius.
Serabut eferen
simpatis yang berasal dari nucleus di bawah ala cinerea, nucleus dorsal,
keduanya serabut motorik pre-ganglion dan serabut sekresi pre-ganglion sistem
nervus simpatis. Serabut sekresi melewati ganglion oticum dan darinya neuron
sekunder terdistribusi menuju glandula parotis.
Dari medulla oblongata,
nervus glossopharingeus berjalan lateral melewati flocculus, dan meninggalkan
cranium menuju foramen jugulare, dalam selubung dura mater yang berbeda dengan
nervus vagus dan accessories; sebelah lateral nervus vagus dan di sebelah
anterior nervus accessories. Ketika keluar dari foramen jugulare, nervus ini
berjalan diantara vena jugularis interna dan arteri carotis interna; di sebelah
anterior arteri carotis interna dan di bawah processus styloideus dan musculus
yang terhubung dengan processus tersebut ke arah margo inferior m.
stylopharingeus. Nervus ini kemudian membelok ke anterior, membentuk arcus pada
sisi leher dan berada di superior m. stylopharingeus dan m. constrictor
pharingis medius. Nervus berjalan di bawah m. hyoglossus dan akhirnya terdistribusi
pada tonsila palatine, membrane mukosa isthmus faucium, dasar mulut dan
glandula mucus rongga mulut. Ketika melewati foramen jugulare, nervus
membentuk dua ganglia, ganglion superior dan ganglion petrosa.
Ganglion superior (ganglion superius; jugular ganglion) terletak pada facies superior sulcus dimana nervus ini berpisah keluar melalui foramen jugulare. Nervus ini sangat kecil dan dianggap sebagai bagian dari ganglion petrosa.
Ganglion superior (ganglion superius; jugular ganglion) terletak pada facies superior sulcus dimana nervus ini berpisah keluar melalui foramen jugulare. Nervus ini sangat kecil dan dianggap sebagai bagian dari ganglion petrosa.
Ganglion petrosa
(inferior ganglion) lebih besar daripada ganglion superior dan terletak pada
depresi yang ada pada margo inferior pars petrosa os temporale.
Nervus vagus (NC. X)
N. vagus meninggalkan dataran
anterolateral bagian atas medulla oblongata pada alur antara oliva dan
pedunculus cerebelli inferior.
Nervus accesorius
(NC. XI)
Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis.
Radiks kranial adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak
dekat neuron dari saraf vagus. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang
mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot trapezius, otot
sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius
memutar skapula bila lengan diangkat ke atas.
Nervus hypoglossus (NC.XII)
Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada
setiap sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan
trigonum hipoglosus. Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan
mempersarafi otot lidah yaitu otot stiloglosus, hipoglosus dan genioglosus.
Fungsi saraf cranial
v
olfactorius-untuk
bau
v
Optik –
penglihatan
v
Oculomotor -
pergerakan bola mata, lensa.
v
Troklearis-gerakan
otot oblik Superior mata
v
trigeminal-Innervates
mata, pipi dan rahang daerah dan kontrol mengunyah
v
Abducens -
bergerak ke luar mata.
v
facialis -
kontrol otot wajah, kulit kepala, telinga; mengontrol kelenjar liur; menerima
sensasi rasa dari dua-pertiga anterior lidah
v
vestibulocochlearis-pendengaran
dan pemeliharaan keseimbangan
v
Glossopharingeus-sensasi
rasa dari bagian belakang lidah dan tenggorokan
v
Vagus-Innervates
dada dan organ-organ perut
v
Aksesori
tulang belakang - gerakan kepala dan bahu
v
Hypoglossal
- kontrol otot-otot lidah
2. Saraf motorik
Terbagi atas dua jalan yaitu Systema Pyramidalis s.Tractus
corticospinalis dan Systema Extrapyramidalis.
a.
Systema Pyramidalis : jalan motoric yang
berasal dari area Broadmann 4 disamping area6,3,2,1 cortex cerebri menuju
medulla spinalis. Bertolak dari tempat asal dan tujuannya, jalan motoric
ini dikenal dengan sebutan Tractus Corticospinalis. Jalan motoric ini berasal
dari sel pyramid (lapis ketiga) cortex cerebri khususnya dari area Broadmann
4dan pada medulla oblongata, jalan motoric ini menimbulkan benjolan di bagian
depanmedulla oblongata yang disebut sebagai pyramid. Jalur ini berakhir pada
cornu anterior medulla spinalis
Neuron orde pertama :
Jalannya
:
Ø Dalam
Hemispherum Cerebri : Corona Radiata
Ø Crus
posterior capsulainterna(serabut yang dekat genu akan mensarafi bagian leher
sedangkan serabut yangterletak leboh ke belakang akan mensarafi otot badan bawah)
Ø Dalam
Mesencephalon : berjalan 3/5 tengah crus cerebri (bagian medialmensarafi bagian
atas leher dan bagian lateral mensarafi otot kaki sebelahlateral.)
Ø Dalam
Pons : akan terpecah menjadi beberapa berkas saraf oleh
Fibra pontocerebellaris transversa.
Ø Dalam
Medulla Oblongata : berkas saraf bergabung menjadi satu kembali danakan
menonjolkan medulla oblongata membentuk piramida. Pada perbatasandengan medulla
spinalis, sadarf akan mengalami dua hal yaitu mayoritas akan bersilangan
membentuk deccusatio pyramidalis sedangkan yang lain yangtidak bersilangan akan
memasuki medulla spinalis.
Ø Dalam
medulla spinalis : serabut yang bersilangan akan memasuki columnalateralis
substansia alba medulla spinalis yang disebut tractus corticospinalislateralis.
Kemudian bersinaps dengan neuron kedua pada columna anterior.Serabut yang tidak
bersilangan akan memasuki columna anterior substansiaalba medulla spinalis yang
disebut tractus corticospinalis anteriordan akan berhenti pada neuron
kedua. Lalu neuron orde kedua akan bersinaps denganneuron orde ketiga di
columna anterior.
Fungsinya
: bersama dengan tractus lain mengantarkan perintah
untuk menggerakkan otot lurik.Fungsi khususnya adalah untuk jalan motoric yang
berkaitan dengan ketepatan, keterampilanterutama gerakan ujung anggota badan
b. Systema
extrapyramidalis jalan motoric selain tractus corticospinalis.Yang datang
dari batang otak menuju medulla spinalis
o
Tractus Reticulospinalis yang berfungsi
untuk mengontrol neuron orde kedua danketiga dalam benruk fasilitasi atau
inhibisi sehingga mampu mengontrol serat ototlintang dan reflex terkait. Asal
neuron pertama yaitu kelompok neuron formationreticulare yang terletak
sepanjang batang otak.
o
Tractus tectospinalis yang fungsinya berkaitan
dengan pupillodilatasi sebagairespon terhadap kegelapan serta berhubungan
dengan reflex gerakan tubuhsebagai respon terhadap rangsang penglihatan. Asal
neuron pertamanya yaitucolliculus superior mesencephalon.
o
Tractus Rubrospinalis yang berfungsi memacu
kontraksi otot flexor danmenghambat kontraksi anti gravitasi otot extensor.
Asal neuron pertamanyaadalah nucleus ruber.
o
Tractus Vestibulospinalis yang berfungsi
memacu kontraksi otot extensor daninhibisi otot flexor. Berhubungan dengan
upaya mempertahankan keseimbangan.
o
euron orde pertama berasal dari nuclei
vestibularis.
o
Tractus olivospinalis yang berfungsi
mempengaruhi kontraksi otot serat lintang.
o
Neuron orde pertama berasal dari nucleus
olivarius inferius.
Yang datang dari cerebri menuju otak :
v Tractus
corticostriata yang berasal dari area broadmann 4s, 6,8,9 menuju kenucleus
caudatus dan globus pallidus.
v Tractus corticothalamicus
· Berasal
dari area Broadmann 10, 11, 12 menuju ke nucleus medialisthalami
· Berasal
dari area Broadmann 9 dan 11 menuju ke nuclei septi thalami
· Berasal
dari area Broadmann 9 menuju ke nuclei medialis dan lateralisthalami
· Berasal
dari area Broadmann 8 menuju ke nuclei medialis thalami
· Berasal
dari area Broadmann 6 menuju ke nuclei septi thalami, nucleimedialis dan
lateralis thalami
· Berasal
dari area Broadmann 4 menuju ke nuclei lateralis thalami.
· Tractus Corticohypothalamicus berasal dari
cortex hippocampi menujuhypothalamus
· Tractus
Corticosubthalamicus berasal dari area Broadmann 6 menuju subthalamus
v Tractus
Corticonigra berasal dari area Broadmann 4, 4s, 6 dan 8 menuju kesubstansia
nigra.
v Tractus yang berasal dari area Broadmann 4 dan
6 menuju tegmentum, nuclei pontis dan nuclei olivarius inferius.
3. Saraf sensorik
Fungsi : Membawa
sensorik (eksteroreseptif dan proprioreseptif) dari reseptor ke pusat
sensorik sadar di otak. Informasi eksteroreseptif meliputi sakit, suhu,
sentuhan dan tekanan sedangkaninformasi proprioreseptif meliputi keadaan otot
sadar, keadaan sendi dan keadaan ligamentum.Tiga Stasiun Jalan sensorik :
a. Neuron orde
pertama à pada
ganglion radix posterior s. ganglion spinale dimana dendritdari sel saraf tsb
dating dari reseptor sedangkan axonnya pergi untuk bersinaps di orde kedua.
b. Neuron orde
kedua à pada
cornu posteror medulla spinalis, axonnya dapat menyilanggaris tengah atau
langsung berjalan dalam columna lateralis pada sisi yang sama,selanjutnya naik
ke atas untuk bersinaps pada orde ketiga.
c. Neuron Orde
ketiga à pada thalamus dimana axonnya akan menuju pusat
sensorik sadarpada gyrus post centralis (area Broadmann 3,2,1)
4. Mikro
Neuron
Dendrit : menerima
rangsang dr lingkungan, epitel sensoris atau dr neuron lain
Perikaryon/badan sel/soma : Pusat trofik sel, menerima rangsang dr neuron lain
Axon : Menghantarkan impuls saraf ke sel lain ( sel saraf, otot dan kelenjar)


Sel ganglion
Yang dimaksud dengan ganglion
adalah kumpulan sel-sel saraf yang terdapat di luar sistem saraf pusat. Apabila
kumpulan sel-sel saraf terdapat dalam sistem saraf pusat maka dinamakan
Nukleus. Biasanya ganglion berbentuk ovoid kecil yang dibungkus oleh jaringan
pengikat padat.
Ganglion intramural biasanya
terdiri dari berapa sel saraf saja dan berada dalam alat-alat dalam, khususnya
dinding saluran pencernaan. Semua ganglion intramural termasuk dalam sistem
parasimpatik.
Berdasarkan struktur dan
fungsinya dibedakan 2 jenis ganglion saraf : Ganglion kraniospinal, terdapat
pada radix dorsalis N. spinalis dan N. cranialis, dan
Ganglion otonom, yang merukan bagian dari sistem saraf otonom.
Ganglion otonom, yang merukan bagian dari sistem saraf otonom.
Masing-masng badan sel ganglion
atau badan sel saraf dikelilingi oleh selapis sel kuboid yang dinamakan sel
kapsel setelit dan selapis tipis jaringan pengikat.
Ganglion kraniospinal mempunyai
sel ganglion yang termasuk tipe pseudounipoler yang mempunyai tonjolan yang
berbentuk huruf T. dua percabangan dari tonjolan tersebut disebut axon dan yang
lainnya berfungsi sebagai dendrite. Walaupun berfungsi sebagai dendrit namun
strukturnya adalah axon., karena diluar ganglion memiliki selubung mielin. Bagian
dari ganglion lebih banyak sel-selnya dari pada di bagian tengah di mana lebih
banyak serabut-serabut saraf. Pada sedian histologi, badan sel ganglion yang
berbentuk pseudounipoler tampak gluber dengan inti terletak di tengah. Ganglion
otonom biasanya berbentuk sebagai pembesaran pada serabut otonom. Beberapa dari
ganglion otonom ini terdapat dalam dinding saluran pencernaan. Ukuran sel saraf
dalam ganglion otonom hampir sama sekitar 20-45 mm mempunyai inti relatif besar
sebagai gelembung yang terletak eksentrik. Secara faali ganglion otonom
dibedakan dalam ganglion simpatik dan ganglion parasimpatik yang tidak dapat
dibedakan secara makrofag
Neuroglia
·
Astrocytesa.
(a)Protoplasmic astrocytes, ditemukan di
substansi kelabu (SSP)
b. fibrous astrocytes, ditemukan di substansi
putih (SSP)
Keduanya berfungsi : Memutar di sekitar saraf untuk menjaga jaringan
dalam system saraf pusat,menghubungkan neurondengan
pembuluh darah,dan membantu mengontrol aliran darah di otak
· Olygodendrocytes
Mempunyai kesamaan dengan
astrocytes namun mempunyai proses yang pendek dan sedikit.Fungsi: menyangga dengan membentuk barisan
jaringan ikat semirigid di antara neuron di (SSP)dan memproduksi selubung myelin di sekitar akson neuron.
·
Mycroglia
Sel kecil yang merupakan derivate monosit, biasanya menetap namun bisa
berpindah ketempat yang terluka,biasa
disebut dengan brain macrophages. Fungsi: menyelubungi dan
memusnahkan mikroba dan cellular debril,bisa bermigrasi kearea yang terluka dari saraf dan berfungsi sebagai makrofag
kecil.
·
Ependymocytes
Sel epitel yang tersusun
selapis dan teratur berbentuk pipih hingga
columnar dan banyak yang bersilia.

Ujung akhir saraf
Ujung – ujung
tonjolan baik sebagai axon ataupun yang berfungsi sebagai dendrit tidak selalu berhubungan
dengan saraf lain melainkan berakhir bebas ataupun berhubungan dengan jenis
jaringan lain. Ujung-ujung saraf tersebut dapat mempunyai kemampuan menerima
rangsangan dari lingkungannya atau membawa pesan dari saraf untuk lingkungan
sebagai jawaban atas rangsangan yang datang. Apabila serabut saraf mampu
membawa impuls dari ujung saraf penerima rangsangan menuju kearah pusat susunan
saraf, maka serabut saraf demikian dinamakan : serabut saraf aferen. Sebaliknya
apabila serabut saraf tersebut membawa impuls sebagai pesan dari pusat susunan
saraf untuk akhiran saraf jenis kedua, maka serabut saraf demikian di namakan
serabut saraf eferen
Badan vater
paccini
Merupakan
reseptor saraf sensoris berupa bangunan dengan bagian tengah berupa bintik yang
merupakan serat saraf tak bermielin yang dikelilingi oleh beberapa lapisan
lingkaran fibroblas yang tersusun konsentris.
Badan meissner
Merupakan
reseptor saraf sensoris berupa bangunan berbentuk oval berpilin pada dermis
kulit ujung jari tangan dan kaki, kulit telapak tangan dan kaki, merupakan
ujung saraf sensoris tak bermielin yang bercabang dan kemudian
cabang-cabang itu dibungkus oleh sel
schwann yang tersusun horizontal.
Muscle spindle
Merupakan
reseptor saraf sensoris yang terdapat pada hampir semua muskular skelet, khusus
banyak ditemukan pada muskular yang berhubungan dengan pergerakan halus seperti
muskulus intrinsik tangan dan otot mata.
Motor end plate
merupakan
efektor serat saraf motorik bagian dari motor unit, suatu bangunan yang
dibentuk oleh ujung saraf motorik dan serat otot skelet yang dipersyarafinya.
MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PEMERIKSAAN
NEUROLOGIS
1.
Saraf kranial
a. Test nervus I (Olfactory)
Fungsi
penciuman. Test pemeriksaan, klien tutup mata dan minta klien mencium benda
yang baunya mudah dikenal seperti sabun, tembakau, kopi dan sebagainya.
Bandingkan dengan hidung bagian kiri dan kanan.
b.
Test nervus II (opticus)
·
Fungsi aktifitas visual dan lapang pandang
·
Test aktifitas visual, tutup satu mata klien kemudian
suruh baca dua baris di koran, ulangi untuk satunya.
·
Test lapang pandang, klien tutup mata kiri, pemeriksa
di kanan, klien memandang hidung pemeriksa yang memegang pena warna cerah,
gerakkan perlahan obyek tersebut, informasikan agar klien langsung memberitahu
klien melihat benda tersebut, ulangi mata kedua.
c. Test nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlear dan Abducens)
·
Fungsi koordinasi gerakan mata dan kontriksi pupil
mata (N III).
·
Test N III (respon pupil terhadap cahaya), menyorotkan
senter kedalam tiap pupil mulai menyinari dari arah belakang dari sisi klien
dan sinari satu mata (jangan keduanya), perhatikan kontriksi pupil kena sinar.
·
Test N IV, kepala tegak lurus, letakkan obyek kurang
lebih 60 cm sejajar mid line mata, gerakkan obyek kearah kanan. Observasi
adanya deviasi bola mata, diplopia, nistagmus.
·
Test N VI, minta klien untuk melihat kearah kiri dan
kanan tanpa menengok.
d. Test nervus V (Trigeminus)
·
Fungsi sensasi, caranya : dengan mengusap pilihan
kapas pada kelopak mata atas dan bawah.
·
Refleks kornea langsung maka gerakan mengedip
ipsilateral.
·
Refleks kornea consensual maka gerakan mengedip
kontralateral.
·
Usap pula dengan pilihan kapas pada maxilla dan
mandibula dengan mata klien tertutup. Perhatikan apakah klien merasakan adanya
sentuhan.
·
Fungsi motorik, caranya : klien disuruh mengunyah,
pemeriksa melakukan palpasi pada otot temporal dan masseter.
e. Test nervus VII (Facialis)
·
Fungsi sensasi, kaji sensasi rasa bagian anterior
lidah, terhadap asam, manis, asin pahit. Klien tutup mata, usapkan larutan
berasa dengan kapas/teteskan, klien tidak boleh menarik masuk lidahnya karena
akan merangsang pula sisi yang sehat.
·
Otonom, lakrimasi dan salivasi
·
Fungsi motorik, kontrol ekspresi muka dengancara
meminta klien untuk : tersenyum, mengerutkan dahi, menutup mata sementara
pemeriksa berusaha membukanya
f. Test nervus VIII (Acustikus)
Fungsi
sensoris :
·
Cochlear (mengkaji pendengaran), tutup satu telinga
klien, pemeriksa berbisik di satu telinga lain, atau menggesekkan jari
bergantian kanan-kiri.
·
Vestibulator (mengkaji keseimbangan), klien diminta
berjalan lurus, apakah dapat melakukan atau tidak.
g. Test nervus IX (Glossopharingeal) dan nervus X (Vagus)
·
N IX, mempersarafi perasaan mengecap pada 1/3
posterior lidah, tapi bagian ini sulit di test demikian pula dengan
M.Stylopharingeus. Bagian parasimpatik N IX mempersarafi M. Salivarius
inferior.
·
N X, mempersarafi organ viseral dan thoracal, pergerakan
ovula, palatum lunak, sensasi pharynx, tonsil dan palatum lunak.
·
Test : inspeksi gerakan ovula (saat klien menguapkan
“ah”) apakah simetris dan tertarik keatas.
·
Refleks menelan : dengan cara menekan posterior
dinding pharynx dengan tong spatel, akan terlihat klien seperti menelan.
h. Test nervus XI (Accessorius)
·
Klien disuruh menoleh kesamping melawan tahanan.
Apakah Sternocledomastodeus dapat terlihat ? apakah atropi ? kemudian palpasi
kekuatannya.
·
Minta klien mengangkat bahu dan pemeriksa berusaha
menahan —- test otot trapezius.
i. Test Nervus XII (Hypoglosus)
·
Mengkaji gerakan lidah saat bicara dan menelan
·
Inspeksi posisi lidah (mormal, asimetris / deviasi)
·
Keluarkan lidah klien (oleh sendiri) dan memasukkan
dengan cepat dan minta untuk menggerakkan ke kiri dan ke kanan.
2.
Saraf fisiologis
Dalam pemeriksaan refleks fisiologis ini, dimana ada
beberapa tahap pemeriksaan refleks, yaitu:
a.
Refleks Kulit Perut (RKP)
Pertama orang coba berbaring terlentang dengan kedua
tangan terletak lurus disamping badan. Kemudian goreslah kulti daerah abdomen
dari lateral kea rah umbilicus. Respon yang terjadi berupa kontraksi otot
dinding perut.
b.
Knee Pess Refleks (KPR)
Orang coba disuruh duduk pada tempat yang agak tinggi
sehingga kedua tungkai akan tergantung bebas atau orang coba berbaring
terlentang dengan fleksi tungkai pada sendi lutut. Kemudian ketuklah tendo
patella dengan hummer atau palu perkusi sehingga terjadi ekstensi tungkai
disertai kontraksi otot kuadriseps.
c.
Achilles Pess Refleks (APR)
Tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki
didorsofleksikan. Kemudian ketuklah tendo Achilles, sehingga terjadi plantar
flexi dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius.
d.
Refleks Biseps (RB)
Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi
siku. Kemudian ketuklah pada tendo biseps akan menyebabkan fleksi lengan siku
dan tampak kontraksi otot biseps.
e.
Refleks Triseps (RT)
Lengan bawah difleksikan pada sendi siku sedikit
dipronasikan. Kemudian ketuklah pada tendo otot triseps 5 cm diatas siku akan
menyebabkan ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps.
f.
Withdrawl Refleks (WR)
Lengan orang coba diletakkan diatas meja dalam keadaan
ekstensi. Tunggulah sampai orang coba tidak melihat saudara. Kemudian dengan
hati – hati dan cepat tusuklah orang cobapada kulit tangannya dengan jarum
suntik steril, atau jarum yang telah disediakan khusus, tusuk sehalus mungkin
agar tidak meulaki orang coba. Respon berupa fleksi lengan tersebut menjauhi
stimulus.
3.
Saraf motorik
Kekuatan kontraksi otot dapat diperiksa dengan cara :
a.
Gerakan aktif
Pasien diminta menggerakkan anggota geraknya dan
pemeriksa menahan gerakan tersebut. Mis : pasien diminta memfleksikan lengan
bawahnya dan pemeriksa berusaha menghalangi gerakan ini, dengan demikian dapat dinilai
kekuatan otot biceps.
b.
Gerakan pasif
Pemeriksa menggerakkan anggota gerak pasien dan
pasien diminta menahan anggota geraknya. Mis : pemeriksa mengekstensikan lengan
bawah pasien dan pasien diminta menahan atau melawan usaha tersebut.
Nilai kekuatan kontraksi otot :
§ 0 = lumpuh total, tidak
dapat sedikitpun kontraksi otot
§ 1 = terdapat sedikit
kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada persendian yang harus
digerakkan oleh otot tersebut
§ 2 = didapatkan gerakan
namun gerakan tidak mampu melawan gaya
berat (gravitasi)
§ 3 = didapatkan gerakan dan
mampu melawan gaya berat
§ 4 = didapatkan mampu
melawan gaya berat dan mengatasi sedikit tahanan yang diberikan
§ 5 = tidak ada kelumpuhan
kekuatan otot normal
4.
Saraf sensorik
a.
Sensasi taktil
Alat yang digunakan: (pilih salah satu)
o Kuas halus
o Kapas
o Bulu
o Tissue
o Ujung jari tangan
Cara pelaksaan:
o Ucapkan salam dan
perkenalan
o Menjelaskan apa yang akan
dilakukan
o Posisikan pasien dalam
keadaan berbaring dan mata tertutup
o Pasien dimohon santai dan
jangan tegang
o Daerah yang dirangsang
harus bebas dari pakaian, bulu/rambut.
o Sentuhkan alat pada daerah
tertentu seringan mungkin.
o Pasien dimohon untuk mengatakan ‘ya’ atau
‘tidak’ terhadap yang dirasakan, mengatakan tempatnya dimana, dan lebih terasa
yang kanan atau kiri.
o Bandingkan bagian tubuh kiri dan kanan.
Kelainan sensasi taktil:
o Anestesia, hipestesia,
hiperestesia yang rancu digunakan untuk semua perubahan sensasi
o Sensasi raba ringan negatif
= tigmanestesia
o Sensasi lokalisasi =
trikoanestesia
o Tidak mampu mengenal huruf
yang ditulis pada kulit = grafanestesia
b.
Sensasi nyeri
Alat yang digunakan: Jarum
Cara pelaksanaan:
o Ucapkan salam dan
perkenalan
o Menjelaskan apa yang akan
dilakukan
o Posisikan pasien dalam
keadaan berbaring dan mata tertutup
o Pasien dimohon santai dan
jangan tegang
o Daerah yang dirangsang
harus bebas dari pakaian, bulu/rambut.
o Pemeriksa harus lebih dulu mencoba jarum
terhadap dirinya.
o Sentuhkan alat pada daerah tertentu seringan
mungkin.
o Pasien dimohon untuk mengatakan ‘ya’ atau
‘tidak’ terhadap yang dirasakan, mengatakan tempatnya dimana, dan lebih terasa
yang kanan atau kiri.
o Pasien dimohon membedakan 2 titik rangasangan
( normalnya, orang bisa ngebedain 2 titik yang jaraknya lebih dari 1 cm)
o Bandingkan bagian tubuh kiri dan kanan.
Gangguan sensasi nyeri :
o Alganestesia dan analgesia,
untuk menunjukkan daerah yang tidak sensitif terhadap rangsang nyeri
o Hipalgesia, sensitifitas
yang menurun
o Hiperalgesia, peningkatan
sensitifitas
c.
Sensasi suhu
Alat yang digunakan: Tabung berisi air dingin(5-10’C)
/ panas(40-45’C)
Cara pelaksanaan:
o Ucapkan salam dan
perkenalan
o Menjelaskan apa yang akan
dilakukan
o Posisikan pasien dalam
keadaan berbaring dan mata tertutup
o Pasien dimohon santai dan
jangan tegang
o Daerah yang dirangsang
harus bebas dari pakaian, bulu/rambut.
o Pemeriksa harus lebih dulu mencoba tabung
dingin/panas terhadap dirinya.
o Tempelkan tabung dingin/panas pada kulit
pasien di daerah tertentu.
o Pasien dimohon mengatakan apakah terasa dingin
/panas.
o Bandingkan bagian tubuh kanan dan kiri.
Kelainan pada sensasi suhu :
o Perubahan sensibilitas suhu
dikenal dengan termanestesia, termahipestesia dan termahipersetia baik terhadap
rangsangan dingin ataupun panas
o Apabila penderita
dirangsang dingin dan panas, keduanya dijawab dengan hangat atau panas, disebut
isotermognosia
MEMAHAMI DAN MENJELASKAN STROKE
1.
Definisi
Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang terjadi mendadak akibat
pasokan darah ke suatu bagian otak sehingga peredaran darah ke otak terganggu.
kurangnya aliran darah dan oksigen menyebabkan serangkaian reaksi biokimia,
yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak sehingga menyebabkan
kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, penurunan kesadaran.
2.
Klasifikasi
Klasifikasi menurut WHO :
a.
Berdasarkan perubahan patologis pada otak :
·
Perdarahan
subarachnoid. Adanya darah didalam ruang subarachnoid
akibat beberapa proses patologis. Penggunaan istilah medis umum SAH
merujuk kepada tipe perdarahan non-traumatik, biasanya berasal dari ruptur
aneurisma Berry atau arteriovenous malformation (AVM)/malformasi arteriovenosa (MAV)
·
Perdarahan
intraserebral. Perdarahan
intra serebral (PIS) adalah perdarahan yang primer berasal
dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma,
hipertensi merupakan penyebab terbanyak.
·
Nekrosis ischemic serebral. Adanya perubahan aliran darah / penyumbatan,
sehingga otak kekurangan aliran darah dan pasokan O2, sehingga terjadi
nekrosis.
b.
Berdasarkan stadium
klinik :
·
Transient Ischemic
Attack ( TIA ). Gangguan fungsi otak akibat berkurangnya aliran darah ke otak
untuk sementara waktu.
·
Stroke Ischemic
Attack.
·
Completed Stroke. Completed stroke
adalah defisit neurologi fokal akut karena oklusi atau gangguan peredaran darah
otak yang secara cepat menjadi stabil tanpa memburuk lagi.
·
Reversible Iskhemik
Neurologikal Defisit ( RIND ). Defisit neurologik fokal akut yang timbul karena iskemia
otak berlangsung lebih dari 24 jam dan menghilang tanpa sisa dalam waktu 1-3
minggu
Kalsifikasi berdasarkan penyebabnya :
a.
Stroke non haemorrhagic
Merupakan suatu keadaan
defisit neurologis akibat kekurangan O2, pada awalnya mungkin akibat
iskhemia umum atau hipertensi karena proses anemia atau kesukaran bernafas.
Jenis-jenis stroke non
haemorhagic adalah :
v Iskhemia Serebri
§ TIA/serangan iskhemik
sepintas. Yaitu stroke yang pulih
sempurna gejalanya dalam waktu 24 jam.
§ RIND ( Reversible Ischemic Neurologic Deficit
). Yaitu stroke yang sembuh sempurna dalam waktu lebih
dari 24 jam.
v Trombosis Serebri
Adalah penyumbatan pada pembuluh darah otak ,
kebanyakan pembuluh darah arterial dengan akibat melunaknya jaringan otak.
v Emboli Serebri
Adalah bekuan darah atau
sumbatan lain yang dibawa mengalir oleh darah sampai kepembuluh darah otak
dengan sumber embolus utama biasanya dari jantung.
b.
Stroke Haemorrhagic
Adalah sesuatu keadaan defisit neurologis akibat
faktor pencetus yang biasanya adalah hipertensi, abnormalitas vaskuler.
Stroke Haemorrhagic ini
terbagi menjadi 2 :
v Apopleksia sanguinea
serebri
v Perdarahan subarakhnoidal.
3. Etiologi
Faktor resiko :
§ usia → insidensi stroke sebanding dgn
meningkatnya usia → di atas umur 55 th, insidensinya meningkat 2 kali lipat
§ hipertensi → ada hubungan langsung antara
tingginya tekanan darah dengan resiko terjadinya stroke
§ jenis kelamin → insidensi pada
pria 19% lebih tinggi drpd wanita
§ TIA (transient ischemic attack)→ 60% kasus
stroke iskemi didahului dengan TIA → makin sering terjadi, makin besar resiko
terjadinya stroke.
§ Diabetes
militus
§ Faktor
keturunan
§ Penyakit
jantung
§ Merokok
Penyebab :
Stroke hemoragik à disebabkan
oleh kenaikan tekanan darah yang akut atau penyakit lain yang menyebabkan
melemahnya pembuluh darah
Stroke iskemik à disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah akibat
adanya emboli, ateroskelosis, atau oklusi
trombotik pada pembuluh darah otak
4.
Patofisiologi
Otak merupakan organ tubuh yang
sensitif terhadap oksigen dan nutrisi. Otak harus menerima aliran darah yang
konstans untuk mempertahankan fungsi normalnya karena otak tidak dapat
menyimpan oksigen dan glukosa sendiri. Aliran darah berfungsi sebagai tempat
untuk membuang sampah metabolik, karbondioksida dan asam laktat. Jika aliran
darah keotak berkurang ataupun menurun maka akan mengakibatkan kerusakan otak
dengan cepat.
Pada stroke, iskemik
terjadi dalam jaringan otak yang aliran darah arterinya terganggu akibat
trombus atau emboli sehingga menimbulkan gangguan fungsi otak. Iskemik dapat
menyebabkan hipoksia atau anoksia dan hipoglikemik pada jaringan otak. Proses
ini dapat mengakibatkan kematian pada neuron, sel ganglia dan struktur otak
disekitar area infark. Edema yang terjadi akan memperberat infark itu sendiri.
Edema dapat berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa hari. Setelah terjadinya infark dan edema, maka secara otomatis
akan terjadi penurunan kemampuan fungsi otak dalam menjalankan fungsi
neurologisnya seperti semula. Hal ini mengakibatkan terjadinya defisit
neurologis pada area kontralateral dari area lesi otak yang terkena, sesuai
dengan karakteristik dari otak.
Stroke
iskhemik
Iskemia disebabkan oleh
adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus
umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh
darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi
berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya
terjadi infark pada jaringan otak.
Emboli disebabkan
oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis.
Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba
berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat
ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.
Stroke
hemoragik
Pembuluh darah otak yang
pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang
menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya
perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan
menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak
sehingga timbul kematian.
Di samping itu, darah
yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan
edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut
menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis
jaringan otak.

5. Manifestasi
klinis
Gejala atau tanda adanya stroke
menurut Corwin (2001) antara lain:
v Daerah otak
yang mengalami iskemia menentukan gejala atau tanda yang muncul. Kemampuan
mental, emosi, kemampuan bicara atau gerakan dapat terpengaruh. Banyak kelainan
yang bersifat irreversibel.
v Stroke hemoragik sering disertai oleh nyeri
kepala hebat dan hilangnya kesadaran.
Lebih lanjut
Arif Mansjoer, dkk (2000) menjelaskan bahwa:
ü Pada stroke non
hemoragik (iskemik) gejala utamanya adalah timbulnya defisit neurologist secara
mendadak/ subakut, didahului gejala prodromal, terjadi pada waktu istirahat
atau bangun pagi dan kesadaran biasanya tidak menurun, kecuali bila embolus
cukup besar, biasanya terjadi pada usia >50 tahun. Menurut WHO, dalam International
Statistical Classification of Disease and related Health Problem 10th revision,
stroke hemorragik dibagi atas:
Perdarahan
intraserebral (PIS)
Perdarahan
subaraknoid (PSA)
ü Stroke akibat
PIS mempunyai gejala prodromal yang tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena
hipertensi. Serangan seringkali siang hari, saat aktivitas, atau emosi/ marah.
Sifat nyeri kepalanya hebat sekali. Mual dan muntah sering terdapat pada
permulaan serangan . Hemiparesis/ hemiplagia biasa terjadi sejak
permulaan serangan. Kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma (655
terjadi kurang dari ½ jam, 23% antara ½ sampai 2 jam, dan 12% trjadi setelah 2
jam sampai 19 hari).
ü Pada pasien dengan PSA didapatkan gejala
prodromal berupa nyeri kepala hebat dan akut, serta muntah. Kesadaran sering
terganggu dan sangat bervariasi.. ada gejala atau trend rangsangan aneurisma
pada a. komunikans anterior atau a. karotis interna.
ü Gejala neurologis yang timbul tergantung pada
berat ringannya gangguan pembuluh darahdan lokasinya. Manifestasi klinis stroke
akut dapat berupa:
a. Kelumpuhan wajah atau anggota badan
(biasanya hemiparesis) yang timbul mendadak
b. Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih
anggota badan (gangguan hemisensorik)
c. Perubahan mendadak status mental (konfusi,
delirium, letargi, strupor, atau koma)
d. Afasia (bicara
tidak lancer, kurangnya ucapan, atau kesulitan memahami ucapan)
e. Disartria (bicara pelo atau cedal)
f. Gangguan penglihatan (hemianopia atau
monokuler) atau diplopia
g. Ataksia (trunkal atau anggita badan)
h. Vertigo, mual dan muntah, atau nyeri
kepala
6. Diagnosis
Pada diagnosis penyakit
serebrovaskular, maka tindakan arteriografi adalah esensial untuk
memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. CT Scan dan MRI merupakan
sarana diagnostik yang berharga untuk menunjukan adanya hematoma, infark atau
perdarahan. EEG dapat membantu dalam menentukan lokasi.
Diagnosis banding : Diagnosis
banding penyebab stroke non haemoragik, yaitu thrombosis dan emboli menurut
Chusid (1993) yaitu onset yang relatif lambat menyokong diagnosa thrombosis.
Sedang endocarditis infeksiosa, fibrilasi atrium dan infark myocard menyokong
diagnosa emboli. Ada beberapa penyakit yang memiliki tanda dan gejala yang
menyerupai stroke, misalnya trauma kepala, tumor intracranial, meningitis atau
virus. Untuk menegakkan diagnosis tersebut diperlukan pemeriksaan yang lebih
spesifik misalnya: Coputerized Tomography Scanning (CT Scan), Magnetic Resonace
Imaging (MRI), Possitron Emesion Tomograph Scanning (PET Scan) dan pemeriksaan
penunjang laboratorium.
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan stroke menurut Corwin
(2001) adalah sebagai berikut:
a. Stroke embolik
dapat diterapi dengan antikoagulan.
b. Stroke hemoragik dapat diobati dengan
penekanan dan penghentian perdarahan dan pencegahan kekambuhan. Mungkin
diperlukan tindakan bedah.
c. Semua stroke diterapi dengan tirah baring
dan penurunan rangsang eksternal untuk pengurangan kebutuhan oksigen serebrum.
Dapat dilakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan tekanan dan edema
intrakranium.
Lebih lanjut J.
Misbach dan H. Kalim (2007) menjabarkan penanganan stroke sebagai berikut:
a.
Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan
pemeriksaan untuk menentukan apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan
yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.
b.
Penelitian
terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau
dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau
streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3
jam setelah timbulnya stroke.
c.
Antikoagulan
juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak
pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah
risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.
d.
Penderita
stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan
dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya
heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.
e.
Pada completed
stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke daerah
tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak
dilakukan pembedahan.
f.
Pengangkatan
sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient
ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang
akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.
g.
Untuk
mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut,
biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat
berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan
pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi
kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di
kulit karena penekanan).
h.
Stroke biasanya
tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai
harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan
darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi
perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan
atau terapi psikis
8.
Komplikasi
Individu yang menderita stroke berat pada
bagian otak yang mengontrol respons pernapasan atau kardiovaskular apat
meninggal (Corwin, 2001).
9.
Pencegahan
Primer : mengendalikan faktor resiko, gizi
seimbang, dan olah raga teratur
Sekunder : mengendalikan faktor resiko,
medikamentosa, dan tindakan invasif bila perlu.
10.
Prognosis
Menurut Chusid (1993)
prognosis thrombosis cerebri ditentukan oleh lokasi dan luasnya infark, juga
keadaan umum pasien. Umumnya makin lambat penyembuhannya, maka semakin buruk
prognosisnya. Pada emboli cerebri, prognosis ditentukan juga dengan adanya
emboli dalam organ-organ yang lain. Bila pasien dapat mengatasi serangan yang
akut, prognosis kehidupannya baik. Dengan rehabilitasi yang aktif, banyak
penderita dapat berjalan lagi dan mengurus dirinya.
KEWAJIBAN SUAMI ISTRI DALAM PANDANGAN ISLAM
Hak dan kewajiban suami isteri terbagi menjadi 3
yaitu:
1. Hak bersama suami isteri,
yang meliputi:
- Halal saling bergaul dan
mengadakan hubungan kenikmatan seksual
- Haram melakukan perkawinan
yang masih ada hubungan darah yang sangat dekat
- Hak saling mendapat waris
akibat dari perkawinan nya yang sah
- Sahnya menasabkan anak
kepada suami yang jadi teman setempat tidur.
- Berlaku dengan baik
2. Hak isteri terhadap
suaminya
- Hak atas kebendaan yang
meliputi mahar (maskawin), barang bawaan, belanja (nafkah).
- Hak yang bukan kebendaan
meliputi hak untuk diperlakukan dengan baik, menjaganya dengan baik, suami
mendatangi istrinya, berseggama di tempat yang tertutup, membaca doa ketika
bersenggama, diharamkan membicarakan masalah persenggamaan, ‘azl dan pembatasan
kelahiran.
3. Hak suami
- Tidak memasukkan laki-laki
lain kerumah nya
- Bakti isteri terhadap
suaminya
- Menempatkan isteri di
rumah suami
- Menghukum isteri karena
menyeleweng
- Isteri berhias untuk
suaminya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar